Tuesday, March 1, 2011

Laporan Investigasi DBD Maros, Maret 2010

LAPORAN HASIL PENYELIDIKAN
KEJADIAN LUAR BIASA DEMAM BERDARAH DENGUE
DI KELURAHAN ALLEPOLEA, KECAMATAN LAU, KABUPATEN MAROS
11 MARET 2010
  
Latar Belakang

Demam Berdarah Dengue (DBD) masih merupakan masalah kesehatan masyarakat dan salah satu penyakit menular yang potensial menimbulkan kejadian luar biasa/wabah. Sejak pertama ditemukan penyakit DBD di Indonesia pada tahun 1968, jumlah kasus cenderung meningkat dan daerah penyebarannya bertambah luas, sehingga kejadian luar biasa (KLB)/wabah masih sering terjadi di berbagai daerah di Indonesia.

DBD disebabkan oleh virus dengue yg ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti yang hidup di dalam dan di sekitar rumah, sehingga penularannya terjadi di semua tempat yang terdapat nyamuk penular tersebut.
Berdasarkan Laporan W1 KLB/Wabah oleh Puskesmas Barandasi tanggal 11 Maret 2010 bahwa telah ditemukan kematian karena menderita DBD sebanyak 1 orang dan di Kelurahan Allepolea, maka telah dilakukan Penyelidikan Epidemiologi dan penanggulangan seperlunya oleh tim penyelidikan KLB DBD Dinas Kesehatan Kab. Maros bersama tim dari petugas puskesmas Barandasi.

Tujuan
  1. Mengetahui kebenaran kasus KLB DBD yg dilaporkan dan luasnya penyebaran
  2. Mengetahui kemungkinan kecenderungan terjadinya penyebarluasan penyakit DBD di lokasi
  3. Melakukan gambaran situasi penyakit dan saran alternatif pencegahan
  4. Melakukan penanggulangan DBD di lokasi

Kondisi Geografi dan Demografi


Kel. Allepolea merupakan salah satu kelurahan di Kec. Lau, Kab. Maros sekitar 2 km dari pusat kab. Maros. Wilayahnya terdiri atas dataran dengan persawahan dan pemukiman penduduk.

Jumlah penduduk Kecamatan Lau kurang lebih 23.000 jiwa dengan luas wilayah 53,76 km2

Sarana Kesehatan

Terdapat 1 puskesmas yaitu puskesmas Barandasi, 1 pustu, dan 20 posyandu

Hasil Kegiatan

Berdasarkan informasi dari petugas surveilans puskesmas Barandasi, ditemukan hal-hal sbb
  • Terdapat 1 (satu) kematian akibat DBD di lingkungan Pamelakang Jene, kelurahan Allepolea, Kec. Lau
  • Nama penderita adalah SHR, umur 2 tahun, jenis kelamin perempuan, Berat badan 8 kg, Anak ke-5 dari 5 bersaudara, anak dari pasangan UMR (37 thn, Security) dan LTG (36 thn, IRT)
- Timeline kasus


Analisis Situasi

Penyakit DBD disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang hidup di dalam dan di sekitar rumah/bangunan. Nyamuk ini mendapatkan virus dengue sewaktu menggigit darah orang yang :
  • Sakit DBD
  • Tidak sakit DBD tetapi dalam darahnya terdapat virus dengue
  • Bila nyamuk tersebut menggigit/menghisap darah orang lain, virus itu akan dipindahkan bersama air liur nyamuk
Dari kegiatan pelacakan epidemiologi di kelurahan Allepolea, kondisi pemukiman yang tidak layak huni menjadi penyebab mudahnya penyebaran nyamuk Aedes aegypti. Lingkungan perumahan tergenang air dan sangat kotor.

Berdasarkan hasil pelacakan tidak ditemukan adanya penderita tambahan di sekitar lokasi rumah penderita, namun 1 orang penderita meninggal dunia sehingga CFR 100% .

Populasi berisiko adalah penduduk sekitar rumah penderita yang padat penghuni dan lingkungan yang kotor dan tergenang.

Angka bebas jentik tidak diketahui karena tidak ada petugas jumantik di lokasi kejadian. Namun walaupun kemudian ternyata tingkat kepadatan nyamuk Aedes aegypti renah, apabila nyamuk dan jentik tidak dibasmi maka setiap hari akan muncul nyamuk yang baru menetas dari tempat perkembangbiakannya dan menularkan virus dengue ke orang sehat di sekitarnya.


Penanggulangan yang Telah Dilaksanakan
  • Fogging fokus
  • Penyuluhan dari rumah ke rumah
  • Pembagian bubuk abate dan kaporit

Kesimpulan
  1. Telah terjadi KLB DBD di Kel. Allepolea Kec. Lau Kab. Maros pada tanggal 11 Maret 2010
  2. Ditemukan 1 orang penderita DBD dengan kematian 1 orang, CFR 100%
  3. Penderita adalah perempuan, usia 2 tahun
  4. Faktor risiko adalah penduduk yang tinggal di sekitar rumah penderita beradius 100 m dan pemukiman yang tergenang dan kotor
Saran
  • Frekuensi penyuluhan kepada masyarakat tentang penyakit DBD perlu ditingkatkan antara lain mengenai 3M plus
  • Untuk menghindari atau mengurangi gigitan nyamuk DBD maka disarankan tidur dalam kelambu, mengolesi badan dengan obat anti gigitan nyamuk, menggunakan obat nyamuk bakar atau menyemprot dengan obat nyamuk,
  • Membersihkan lingkungan sekitar agar pemukiman tidak kotor dan tergenang
  • Perlu adanya kerjasama lintas sektor, lintas program, dan masyarakat dalam program pemberantasan penyakit DBD
  • Sistem Surveilans DBD di Puskesmas Sudiang perlu ditingkatkan dan pelaksanaan system kewaspadaan dini (SKD) terutama dalam analisa data pra KLB

No comments:

Post a Comment