Tuesday, November 6, 2018

Situs SKDR yang Bisa Diakses



SKDR (Sistem Kewasapadaan Dini dan Respon) adalah suatu sistem yang dapat memantau perkembangan trend suatu penyakit menular potensial KLB/wabah dari waktu ke waktu (periode mingguan) dan memberikan sinyal peringatan (alert) kepada pengelola program bila kasus tersebut melebihi nilai ambang batasnya sehingga mendorong program untuk melakukan respons.

Thursday, November 1, 2018

Upaya Pemberantasan Jentik Masyarakat Pesisir



Nyamuk Aedes (Aedes aegypti dan Aedes albopictus) adalah spesies nyamuk vektor pembawa virus dengue yang dominan di Indonesia, penyebab demam dengue, baik yang berdarah (DBD – Demam Berdarah Dengue) maupun yang tidak berdarah (DD – Demam Dengue). DBD adalah salah satu penyakit yang ditakuti masyarakat karena masih sering terjadi dan menimbulkan kematian serta menular dengan cepat. Daerah endemis DBD adalah daerah yang setiap tahun dalam kurun waktu tiga tahun terakhir selalu ada kasus DBD. Kabupaten Maros adalah daerah endemis DBD.

Ada beberapa tahap hidup nyamuk, mulai dari telur, larva/jentik, pupa, dan nyamuk dewasa. Yang sering dilihat secara langsung dan kasat mata adalah jentik dan nyamuk. Kalau telur sangat kecil, sedangkan pupa waktu hidupnya cepat berkisar dua hari saja sehingga jarang dilihat dan ditemukan. Siklus hidup jentik agak lama berkisar lima sampai tujuh hari sedangkan siklus hidup nyamuk bisa sampai dua bulan. Dalam program pencegahan dan pengendalian DBD terkhusus pengendalian vektor, jentik dan nyamuk adalah dua hal yang sangat penting untuk dikendalikan. Karena tempat hidupnya, jentik yang hidup di air lebih mudah dikendalikan daripada nyamuk yang hidup di luar air.

Masyarakat pesisir sulit mendapatkan air bersih, mereka mengandalkan air hujan untuk kebutuhan MCK sehari-hari, sedangkan untuk konsumsi umumnya menggunakan air minum kemasan (galon) yang dijual bebas. Karena sulitnya air, masyarakat menyimpan persediaan air dalam wadah-wadah di dalam rumah. Wadah ini kebanyakan berupa drum bekas yang tertutup maupun tidak berpenutup. Wadah-wadah inilah yang berpotensi sebagai tempat perindukan nyamuk. Dusun Bua Mata adalah salah satu dusun di daerah pesisir Kabupaten Maros. Sebagian besar masyarakat berprofesi sebagai petani tambak dan nelayan.

Beberapa pekan yang lalu terjadi peningkatan kasus DBD di Dusun Bua Mata, Desa Minasa Upa, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros. Setelah melaksanakan Penyelidikan Epidemiologi, dapat ditarik kesimpulan bahwa kasus DBD menyebar di sekitar rumah penderita (bukan kasus impor). Ditemukan perindukan nyamuk pada wadah penampungan air warga.

Setelah dilakukan wawancara, masyarakat tidak tahu bahaya jentik. Malah orang tua terdahulu menganggap jentik itu harus dipelihara karena sebagai penanda kalau air tersebut aman dari bahan kimia. Dasar pemikirannya sangat sederhana, jentik adalah makhluk hidup, jika jentik mati di air maka air tersebut pasti tidak aman dan mengandung bahan kimia berbahaya. Untuk jentik saja berbahaya dan mematikan apalah lagi bagi manusia. Masyarakat tidak mengetahui siklus hidup nyamuk, tidak paham bahwa nyamuk berasal dari jentik.

Dilakukan wawancara mendalam, masyarakat tahu tentang larvasida (abate) yang dikenal dengan ‘obat air’ namun tidak tahu bahwa ‘obat air’ tersebut untuk memberantas jentik. Mereka menganggap ‘obat air’ tersebut untuk diberikan di air saja tanpa manfaat khusus. Namun demikian masyarakat tidak senang dengan penggunaan larvasida, karena bau dan tidak gratis. Setelah diberikan informasi manfaat larvasida dan dapat diperoleh dengan gratis, masyarakat tetap meminta opsi lain untuk pemberantasan larva. Masyarakat lebih tertarik dengan penggunaan ikan cupang pemangsa jentik walaupun agak merepotkan karena harus dilakukan seminggu sekali menghindari bau air justru dari kotoran ikan.

Bagaimana dengan yang sudah paham bahaya jentik? Masyarakat kota yang lebih tahu tentang siklus hidup nyamuk lebih ke persoalan malas dalam penanggulangan nyamuk yang lebih efektif. Masyarakat kota lebih mengandalkan fogging dalam pemberantasan vektor, mereka tidak paham bahwa seberapa banyak kalipun difogging tidak akan mematikan jentik sebagai cikal-bakal nyamuk. Jangankan masyarakat umum, saya pun kadang abai dengan keberadaan jentik. Saat banyak nyamuk barulah saya sadar kalau ada perindukan nyamuk di dalam ataupun sekitar rumah. Barulah bertindak saat telah banyak nyamuk yang beterbangan, mungkin ada beberapa nyamuk Aedes yang bahkan sudah menggigit saya.

Mengetahui hal ini, petugas kesehatan terutama bagian promosi kesehatan harus melaksanakan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) dengan lebih gencar di tengah masyarakat tentang pentingnya 3MPlus dalam pemberantasan sarang nyamuk. Minimal komunikasi risiko bahaya jentik dan informasi siklus hidup nyamuk, agar masyarakat tidak abai bahkan sengaja memelihara jentik. Apabila masyarakat tidak terlalu senang dengan penggunaan larvasida, disarankan untuk menggunakan ikan pemangsa jentik seperti ikan cupang sekali dalam sepekan untuk mematikan jentik ataupun mencegah nyamuk bertelur di wadah air.

Metode dan teknik pemberantasan jentik antar kelompok masyarakat berbeda, tergantung kebutuhan dan efektif-efisiennya metode tersebut dan diterimanya metode di tengah kelompok masyarakat. Untuk masyarakat pesisir harus terus didampingi dengan menggalakkan KIE secara informal dan pendekatan budaya. Masyarakat kota? Saya pun masih bingung karena mereka bebal seperti saya.




Tuesday, April 24, 2018

Diagnosis dan Tatalaksana DBD


 

I.              Diagnosis Infeksi Dengue

Kriteria diagnosis infeksi dengue dibagi menjadi kriteria diagnosis klinis dan kriteria diagnosis laboratoris. Kriteria diagnosis klinis penting dalam penapisan kasus, tata laksana kasus, memperkirakan prognosis kasus, dan surveilans. Kriteria diagnosis laboratoris yaitu kriteria diagnosis dengan konfirmasi laboratorium yang penting dalam pelaporan, surveilans, penelitian dan langkah-langkah tindakan preventif dan promotif.


A. Kriteria Diagnosis Klinis
Manifestasi klinis infeksi dengue sangat bervariasi dan sulit dibedakan dari penyakit infeksi lain terutama pada fase awal perjalanan penyakit-nya. Dengan meningkatnya kewaspadaan masyarakat terhadap infeksi dengue, tidak jarang pasien demam dibawa berobat pada fase awal penyakit, bahkan pada hari pertama demam. Sisi baik dari kewaspadaan ini adalah pasien demam berdarah dengue dapat diketahui dan memperoleh pengobatan pada fase dini, namun di sisi lain pada fase ini sangat sulit bagi tenaga kesehatan untuk menegakkan diagnosis demam berdarah dengue. Oleh karena itu diperlukan petunjuk kapan suatu infeksi dengue harus dicurigai, petunjuk ini dapat berupa tanda dan gejala klinis serta pemeriksaan laboratorium rutin. Tanpa adanya petunjuk ini di satu sisi akan menyebabkan keterlambatan bahkan kesalahan dalam menegakkan diagnosis dengan segala akibatnya, dan di sisi lain menyebabkan pemeriksaan laboratorium berlebih dan bahkan perawatan yang tidak diperlukan yang akan merugikan baik bagi pasien maupun dalam peningkatan beban kerja rumah sakit.
Berdasar petunjuk klinis tersebut dibuat kriteria diagnosis klinis, yang terdiri atas kriteria diagnosis klinis Demam Dengue (DD), Demam Berdarah Dengue (DBD), Demam Berdarah Dengue dengan syok (Sindrom Syok Dengue/SSD), dan Expanded Dengue Syndrome (unusual manifestation). (UKK Infeksi dan Penyakit Tropis IDAI, 2014)
1.    Demam Dengue (DD)
Demam tinggi mendadak (biasanya ≥ 39ยบ) ditambah 2 atau lebih gejala/tanda penyerta:
-          Nyeri kepala
-          Nyeri belakang bola mata
-          Nyeri otot & tulang
-          Ruam kulit      
-          Manifestasi perdarahan
-          Leukopenia (Lekosit ≤ 5000 /mm³)
-          Trombositopenia (Trombosit< 150.000 /mm³ )
-          Peningkatanhematokrit 5 – 10 %

2.    Demam Berdarah Dengue (DBD)
1)    Diagnosis DBD dapat ditegakkan bila ditemukan manifestasi berikut:
a.    Demam 2–7 hari yang timbul mendadak, tinggi, terus-menerus
b.    Adanya manifestasi perdarahan baik yang spontan seperti petekie, purpura, ekimosis, epistaksis, perdarahan gusi, hematemesis dan atau melena; maupun berupa uji tourniquet positif.
c.    Trombositopnia (Trombosit ≤ 100.000/mm³)
d.    Adanya kebocoran plasma (plasma leakage) akibat dari peningkatan permeabilitas vaskular yang ditandai salah satu atau lebih tanda berikut:
·         Peningkatan hematokrit/hemokonsentrasi ≥ 20% dari nilai baseline atau penurunan sebesar itu pada fase konvalesens
·         Efusi pleura, asites atau hipoproteinemia/ hipoalbuminemia

Sunday, January 24, 2016

Mengenal Penyakit Zika



Wabah penyakit ZIKA dikaitkan dengan cacat bawaan pada bayi baru lahir telah menimbulkan kekhawatiran di Brasil dan komunitas internasional. Brasil merupakan wilayah terbesar penyebaran virus yang menimbulkan kecacatan pada bayi yang baru lahir, yang ibunya terkena gigitan oleh nyamuk tersebut ketika masa kehamilan. Badan kesehatan AS, Kanada dan Uni Eropa telah mengeluarkan peringatan kepada perempuan hamil untuk menghindari perjalanan ke Brasil dan negara lain di Amerika yang ditemukan kasus penyebaran virus Zika.

Virus Zika (ZIKV) adalah anggota dari virus famili Flaviviridae dan genus Flavivirus yang, ditularkan oleh nyamuk Aedes. Pada manusia, Zika menyebabkan sakit ringan yang dikenal sebagai demam Zika, Zika, atau penyakit Zika. Sejak tahun 1950 penyakit Zika diketahui terjadi sepanjang garis khatulistiwa dari Afrika ke Asia. Pada tahun 2014, virus menyebar ke arah timur melintasi Samudera Pasifik ke Polinesia Prancis, kemudian ke Pulau Paskah dan pada tahun 2015 ke Amerika Tengah, Karibia, dan Amerika Selatan, di mana wabah Zika telah mencapai tingkat pandemi.

Penyakit ini seperti bentuk ringan dari demam berdarah, diperlakukan dengan istirahat, dan tidak dapat dicegah dengan obat-obatan atau vaksin. Penyakit Zika berhubungan dengan demam kuning dan penyakit West Nile, yang disebabkan oleh flaviviruses arthropoda.

Para ahli sains mengatakan ada penemuan bukti terkait dengan microcephaly, yang menyebabkan bayi lahir dengan kepala kecil. Virus Zika menyebabkan demam dan bercak, yang sebagian besar orang tidak menunjukkan gejala, dan tidak diketahui obatnya. Salah satunya cara untuk memberantas Zika adalah membersihkan air tergenang tempat nyamuk berkembang biak, dan mencegah gigitan nyamuk.


Sunday, December 27, 2015

Vaksin Dengue


Vaksin Dengue pertama di dunia telah mendapat izin edar pada tanggal 9 Desember 2015. Vaksin ini bermerek DENGVAXIA, dengan Meksiko adalah negara pertama yang menggunakannya. Vaksin Dengue ini diproduksi oleh Sanofi (Perancis) setelah dikembangkan selama lebih dari 20 tahun.  Penemuan vaksin Dengue dianggap sebagai salah satu pencapaian historis dalam sejarah vaksinologi dan diyakini akan menurunkan angka kejadian demam Dengue/demam berdarah Dengue.

Vaksin Dengue efektif untuk keempat serotipe virus Dengue (DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4) dan dapat diberikan pada orang berusia 9-45 tahun.  Sebelum mendapat izin edar, vaksin Dengue telah menjalani proses uji klinis yang melibatkan lebih dari 40.000 orang di seluruh dunia, dari berbagai kelompok umur, latar belakang epidemiologis, etnis, kondisi geografis, dan status sosioekonomi.

Dampak infeksi Dengue di negara-negara endemis cukup signifikan.  Sebanyak 400 juta orang terinfeksi Dengue setiap tahunnya. Terdapat 128 negara yang dinyatakan endemis Dengue, termasuk Indonesia. WHO sendiri menargetkan pada tahun 2020, angka kematian akibat infeksi Dengue berkurang 50% dan angka kecacatan berkurang 25%. Dari uji klinis vaksin Dengue diketahui bahwa bila vaksinasi Dengue dilakukan pada 20% populasi di 10 negara endemis  yang berpartisipasi pada uji klinis fase III, kasus baru Dengue dapat dikurangi hingga 50%.

Kasus demam Dengue dan demam berdarah Dengue adalah sesuatu  yang kita saksikan sehari-hari di Indonesia. Tak terhitung berapa banyak anak dan orang dewasa yang harus menjalani perawatan di RS karena infeksi Dengue. Banyak pula pasien yang sampai meninggal, umumnya karena orang tua tidak mengenali gejala demam Dengue/demam berdarah Dengue, sehingga anak terlambat mendapat pertolongan medis. Tidak ada pengobatan spesifik bagi demam Dengue/demam berdarah Dengue. Terapinya bersifat suportif, khususnya dalam hal pemberian cairan yang agresif.

Indonesia sendiri menjadi salah satu negara yang berpartisipasi dalam uji klinis vaksin Dengue. Saat ini, vaksin ini sedang menjalani proses registrasi di Badan POM untuk mendapatkan izin edar. Bila tak ada aral melintang, vaksin ini akan tersedia pada tahun 2016. Mengenai harga, belum ada rilis resmi dari produsen, namun diperkirakan harganya masih relatif mahal, namun menjadi sangat murah bila dibandingkan dengan jumlah biaya yang harus dikeluarkan bila kita/anak-anak kita mengalami demam berdarah.

Friday, October 30, 2015

Kewaspadaan Terhadap Penyakit Perjalanan/ Traveller

Penyakit menular dapat timbul oleh karena adanya penularan dari orang yang sakit ke orang yang sehat melalui berbagai macam cara. Salah satu cara penularannya adalah terbawanya penyakit dari suatu daerah kedaerah lainnya melalui orang yang bepergian (Traveller). Penyakit traveler atau penyakit akibat perjalanan seperti penyakit Thypoid, Penyakit Malaria, penyakit MersCov, penyakit Ebola dan lain-lain adalah penyakit yang perlu diwaspadai, ini disebabkan tingginya angka kematian yang diakibatkan oleh penyakit-penyakit tersebut.

Dua penyakit yang menjadi perhatian dunia terutama WHO adalah penyakit MersCov dan penyakit Ebola. Kemungkinan untuk penyakit ini masuk dan berkembangbiak kewilayah Negara Indonesia  sangatlah besar, kondisi ini diakibatkan oleh banyaknya penduduk yang bepergian baik nasional maupun internasional. Minat penduduk melakukan perjalanan Haji dan Umroh sangat besar, hal ini membawa dampak mudahnya penyakit-penyakit masuk dan berkembang.

Pelayanan dan administrasi calon Jemaah haji sudah sangat baik dilakukan oleh pemerintah, namun pelayanan untuk Jemaah umroh belum dikelola dengan maksimal. Antisipasi terhadap kemungkinan munculnya penyakit traveler, Dinas Kesehatan bekerja sama dengan Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP), mengkompilasi data calon jemaah Umroh yang mendapat vaksinasi meningitis di KKP. Selanjutnya data Jemaah Umroh dan rencana keberangkatannya, beserta alamat domisili diemailkan kepada teman teman pengelola Surveilans di Kabupaten Kota untuk ditindaklanjuti dalam rangka antisipasi terhadap munculnya penyakit traveller. Sumber data berasal dari kompilasi data vaksinasi meningitis dari KKP.

Monday, October 5, 2015

Rencana Kontinjensi Kedaruratan Kesehatan Masyarakat

Setiap daerah mempunyai ciri khas tersendiri yang membedakannya dengan daerah lainnya. Hal ini mengindikasikan bahwa resiko terhadap kedaruratan kesehatan masyarakat berbeda-beda pula. Kedaruratan kesehatan masyarakat tentunya memerlukan upaya khusus untuk penanggulangannya. Salah satu kendala yang sering dijumpai dalam upaya penanggulangan kedaruratan kesehatan masyarakat adalah kurangnya kesiapan sumber daya manusia dan komitmen kerjasama lintas program dan sektor terkait. Agar penyelenggaraan penanggulangan kedaruratan kesehatan masyarakat di suatu wilayah dapat berjalan lancar dan mencapai tujuan serta sasaran yang diharapkan, maka disusunlah rencana kontinjensi yang mengatur penyelenggaraan kegiatan dimaksud yang meliputi perencanaan, persiapan dan ketentuan pelaksanaan serta evaluasi. Adapun susunan rencana kontinjensi secara umum adalah sebagai berikut. 

Situs SKDR yang Bisa Diakses

SKDR (Sistem Kewasapadaan Dini dan Respon) adalah suatu sistem yang dapat memantau perkembangan trend suatu penyakit menular potensial K...