Sunday, January 24, 2016

Mengenal Penyakit Zika



Wabah penyakit ZIKA dikaitkan dengan cacat bawaan pada bayi baru lahir telah menimbulkan kekhawatiran di Brasil dan komunitas internasional. Brasil merupakan wilayah terbesar penyebaran virus yang menimbulkan kecacatan pada bayi yang baru lahir, yang ibunya terkena gigitan oleh nyamuk tersebut ketika masa kehamilan. Badan kesehatan AS, Kanada dan Uni Eropa telah mengeluarkan peringatan kepada perempuan hamil untuk menghindari perjalanan ke Brasil dan negara lain di Amerika yang ditemukan kasus penyebaran virus Zika.

Virus Zika (ZIKV) adalah anggota dari virus famili Flaviviridae dan genus Flavivirus yang, ditularkan oleh nyamuk Aedes. Pada manusia, Zika menyebabkan sakit ringan yang dikenal sebagai demam Zika, Zika, atau penyakit Zika. Sejak tahun 1950 penyakit Zika diketahui terjadi sepanjang garis khatulistiwa dari Afrika ke Asia. Pada tahun 2014, virus menyebar ke arah timur melintasi Samudera Pasifik ke Polinesia Prancis, kemudian ke Pulau Paskah dan pada tahun 2015 ke Amerika Tengah, Karibia, dan Amerika Selatan, di mana wabah Zika telah mencapai tingkat pandemi.

Penyakit ini seperti bentuk ringan dari demam berdarah, diperlakukan dengan istirahat, dan tidak dapat dicegah dengan obat-obatan atau vaksin. Penyakit Zika berhubungan dengan demam kuning dan penyakit West Nile, yang disebabkan oleh flaviviruses arthropoda.

Para ahli sains mengatakan ada penemuan bukti terkait dengan microcephaly, yang menyebabkan bayi lahir dengan kepala kecil. Virus Zika menyebabkan demam dan bercak, yang sebagian besar orang tidak menunjukkan gejala, dan tidak diketahui obatnya. Salah satunya cara untuk memberantas Zika adalah membersihkan air tergenang tempat nyamuk berkembang biak, dan mencegah gigitan nyamuk.


Sunday, December 27, 2015

Vaksin Dengue


Vaksin Dengue pertama di dunia telah mendapat izin edar pada tanggal 9 Desember 2015. Vaksin ini bermerek DENGVAXIA, dengan Meksiko adalah negara pertama yang menggunakannya. Vaksin Dengue ini diproduksi oleh Sanofi (Perancis) setelah dikembangkan selama lebih dari 20 tahun.  Penemuan vaksin Dengue dianggap sebagai salah satu pencapaian historis dalam sejarah vaksinologi dan diyakini akan menurunkan angka kejadian demam Dengue/demam berdarah Dengue.

Vaksin Dengue efektif untuk keempat serotipe virus Dengue (DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4) dan dapat diberikan pada orang berusia 9-45 tahun.  Sebelum mendapat izin edar, vaksin Dengue telah menjalani proses uji klinis yang melibatkan lebih dari 40.000 orang di seluruh dunia, dari berbagai kelompok umur, latar belakang epidemiologis, etnis, kondisi geografis, dan status sosioekonomi.

Dampak infeksi Dengue di negara-negara endemis cukup signifikan.  Sebanyak 400 juta orang terinfeksi Dengue setiap tahunnya. Terdapat 128 negara yang dinyatakan endemis Dengue, termasuk Indonesia. WHO sendiri menargetkan pada tahun 2020, angka kematian akibat infeksi Dengue berkurang 50% dan angka kecacatan berkurang 25%. Dari uji klinis vaksin Dengue diketahui bahwa bila vaksinasi Dengue dilakukan pada 20% populasi di 10 negara endemis  yang berpartisipasi pada uji klinis fase III, kasus baru Dengue dapat dikurangi hingga 50%.

Kasus demam Dengue dan demam berdarah Dengue adalah sesuatu  yang kita saksikan sehari-hari di Indonesia. Tak terhitung berapa banyak anak dan orang dewasa yang harus menjalani perawatan di RS karena infeksi Dengue. Banyak pula pasien yang sampai meninggal, umumnya karena orang tua tidak mengenali gejala demam Dengue/demam berdarah Dengue, sehingga anak terlambat mendapat pertolongan medis. Tidak ada pengobatan spesifik bagi demam Dengue/demam berdarah Dengue. Terapinya bersifat suportif, khususnya dalam hal pemberian cairan yang agresif.

Indonesia sendiri menjadi salah satu negara yang berpartisipasi dalam uji klinis vaksin Dengue. Saat ini, vaksin ini sedang menjalani proses registrasi di Badan POM untuk mendapatkan izin edar. Bila tak ada aral melintang, vaksin ini akan tersedia pada tahun 2016. Mengenai harga, belum ada rilis resmi dari produsen, namun diperkirakan harganya masih relatif mahal, namun menjadi sangat murah bila dibandingkan dengan jumlah biaya yang harus dikeluarkan bila kita/anak-anak kita mengalami demam berdarah.

Friday, October 30, 2015

Kewaspadaan Terhadap Penyakit Perjalanan/ Traveller

Penyakit menular dapat timbul oleh karena adanya penularan dari orang yang sakit ke orang yang sehat melalui berbagai macam cara. Salah satu cara penularannya adalah terbawanya penyakit dari suatu daerah kedaerah lainnya melalui orang yang bepergian (Traveller). Penyakit traveler atau penyakit akibat perjalanan seperti penyakit Thypoid, Penyakit Malaria, penyakit MersCov, penyakit Ebola dan lain-lain adalah penyakit yang perlu diwaspadai, ini disebabkan tingginya angka kematian yang diakibatkan oleh penyakit-penyakit tersebut.

Dua penyakit yang menjadi perhatian dunia terutama WHO adalah penyakit MersCov dan penyakit Ebola. Kemungkinan untuk penyakit ini masuk dan berkembangbiak kewilayah Negara Indonesia  sangatlah besar, kondisi ini diakibatkan oleh banyaknya penduduk yang bepergian baik nasional maupun internasional. Minat penduduk melakukan perjalanan Haji dan Umroh sangat besar, hal ini membawa dampak mudahnya penyakit-penyakit masuk dan berkembang.

Pelayanan dan administrasi calon Jemaah haji sudah sangat baik dilakukan oleh pemerintah, namun pelayanan untuk Jemaah umroh belum dikelola dengan maksimal. Antisipasi terhadap kemungkinan munculnya penyakit traveler, Dinas Kesehatan bekerja sama dengan Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP), mengkompilasi data calon jemaah Umroh yang mendapat vaksinasi meningitis di KKP. Selanjutnya data Jemaah Umroh dan rencana keberangkatannya, beserta alamat domisili diemailkan kepada teman teman pengelola Surveilans di Kabupaten Kota untuk ditindaklanjuti dalam rangka antisipasi terhadap munculnya penyakit traveller. Sumber data berasal dari kompilasi data vaksinasi meningitis dari KKP.

Monday, October 5, 2015

Rencana Kontinjensi Kedaruratan Kesehatan Masyarakat

Setiap daerah mempunyai ciri khas tersendiri yang membedakannya dengan daerah lainnya. Hal ini mengindikasikan bahwa resiko terhadap kedaruratan kesehatan masyarakat berbeda-beda pula. Kedaruratan kesehatan masyarakat tentunya memerlukan upaya khusus untuk penanggulangannya. Salah satu kendala yang sering dijumpai dalam upaya penanggulangan kedaruratan kesehatan masyarakat adalah kurangnya kesiapan sumber daya manusia dan komitmen kerjasama lintas program dan sektor terkait. Agar penyelenggaraan penanggulangan kedaruratan kesehatan masyarakat di suatu wilayah dapat berjalan lancar dan mencapai tujuan serta sasaran yang diharapkan, maka disusunlah rencana kontinjensi yang mengatur penyelenggaraan kegiatan dimaksud yang meliputi perencanaan, persiapan dan ketentuan pelaksanaan serta evaluasi. Adapun susunan rencana kontinjensi secara umum adalah sebagai berikut. 

Thursday, May 8, 2014

MERS, Sindrom Pernafasan Timur Tengah




Kementerian Kesehatan Arab Saudi telah mengkonfirmasi jumlah kasus infeksi MERS sebanyak 411 dan 112 kematian (per Sabtu, 3 Mei 2014). Sejauh ini belum ditemukan vaksin antiMERS. 

Middle East Respiratory Syndrome (MERS) = Sindrom Pernafasan (dari negara) Timur Tengah disebabkan virus korona yang disebut Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus (MERS-CoV). Penamaan MERS-CoV diputuskan oleh Kelompok Studi Virus Korona (CSG) dari Komite Internasional Taksonomi Virus (ICTV) pada Mei 2013. Laporan awal seperti gejala pada virus sindrom pernapasan akut parah (SARS), dan dinamakan sebagai virus SARS Arab Saudi. Gejala infeksi MERS-CoV termasuk gagal ginjal dan radang paru-paru akut, yang sering menyebabkan hasil yang fatal.

Kasus pertama dilaporkan terjadi di Arab Saudi pada bulan Juni 2012, memiliki sejarah 7 hari demam, batuk, dahak, dan sesak napas. MERS memiliki masa inkubasi sekitar 12 hari. MERS kadang-kadang dapat menyebabkan pneumonia, radang paru-paru baik secara langsung atau pneumonia bakteri sekunder. Virus yang mirip dengan SARS ini bahkan menyebar hingga ke Amerika Serikat. Seorang warganya dilaporkan sakit setelah mengunjungi pamannya di Riyadh, Arab Saudi.

MERS-CoV biasa disebut novel coronavirus atau nCoV. Virus ini berbeda dengan virus korona lain yang ditemukan pada manusia. Seperti virus SARS, MERS-CoV paling mirip dengan virus korona yang ditemukan pada kelelawar. Namun, Pusat Pengendalian Penyakit (CDC) Amerika Serikat masih mempelajarinya. Sebagian besar orang yang terinfeksi MERS menderita penyakit pernapasan akut dengan gejala demam, batuk dan sulit bernapas. Setengah dari mereka yang terinfeksi meninggal dunia. Sebagian lainnya dilaporkan memiliki gangguan pernapasan ringan.

MERS menyebar antarmanusia yang melakukan kontak langsung. Transmisi virus dari pasien ke perawat tengah dipelajari. Hingga saat ini belum diketahui dari mana virus korona berasal. Diduga virus ini berasal dari hewan. Selain pada manusia, MERS-CoV juga ditemukan pada unta di Qatar, Mesir dan Arab Saudi dan kelelawar di Saudi. Unta di beberapa negara lain hasil tesnya positif mempunyai antibodi MERS. Hal ini menunjukkan mereka sebelumnya pernah terinfeksi MERS atau virus yang memiliki hubungan dekat dengan MERS. Namun, belum dikonfirmasi apakah virus ini benar datang dari unta

Belum ada pengobatan MERS yang diketahui. Untuk saat ini, vaksinasi influenza tahunan dan 5 tahun vaksinasi pneumokokus diberikan untuk mengurangi atau melemahkan keparahan infeksi MERS.

Indikator Spesifik Kesehatan Masyarakat




Defenisi Indikator
Terdapat beberapa literatur tentang definisi indikator, antara lain:
  • WHO, 1981: Indikator adalah variabel yang membantu kita dalam mengukur perubahan-perubahan yang terjadi baik secara langsung maupun tidak langsung 
  • Wilson & Spanauchart, 1993: Indikator adalah suatu ukuran tidak langsung dari suatu kejadian atau kondisi 
  • Green, 1992: Indikator adalah variabel-variabel yang mengindikasikan atau memberi petunjuk kepada kita tentang suatu keadaan tertentu, sehingga dapat digunakan untuk mengukur perubahan
Pada kesimpulannya, suatu INDIKATOR haruslah SMART (Simple, Measurable, Attributable, Reliable, Timely) dengan konsep bagan sebagai berikut:



Jenis Indikator
Ada tiga jenis indikator, yaitu: 
  1. Indikator berbentuk ABSOLUT adalah indikator yang hanya berbentuk pembilang saja, yaitu suatu hal atau kejadian. Contoh: Kasus meningitis di Puskesmas 
  2. Indikator berbentuk PROPORSI adalah indikator yang nilai resultantenya dinyatakan dengan persen karena pembilangnya bagian dari penyebut. Misalnya : Proposi Puskesmas yang memiliki dokter di seluruh puskesmas 
  3. Indikator berbentuk ANGKA ATAU RASIO. Indikator berbentuk angka adalah Indikator berbentuk angka yang menunjukan frekuensi dari suatu kejadian selama periode tertentu. Biasanya dinyatakan dalam per 1000 atau per 100.000. Contohnya: Kasus Malaria di kalangan anak balita. Indikator berbentuk Rasio adalah indikator yang pembilangnya bukan merupakan bagian dari penyebut. Contohnya : Rasio bidan terhadap penduduk di suatu kabupaten

Monday, September 30, 2013

GHPR dan Rabies



Kasus gigitan hewan penular rabies (GHPR) dan Rabies masih menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat. Betapa tidak, penanganan GHPR memerlukan biaya yang tidak sedikit, CFR rabies pun mencapai 100%.

Penyakit rabies merupakan penyakit menular akut dari susunan syaraf pusat yang disebabkan oleh virus rabies. Ditularkan oleh hewan penular rabies terutama anjing, kucing dan kera melalui gigitan, aerogen, transplantasi atau kontak dengan bahan yang mengandung virus rabies pada kulit yang lecet atau mukosa. Penyakit ini apabila sudah menunjukkan gejala klinis pada hewan dan manusia selalu diakhiri dengan kematian, angka kematian Case Fatality Rate (CFR) mencapai 100% dengan menyerang pada semua umur dan jenis kelamin. Kekebalan alamiah pada manusia sampai saat ini belum diketahui.

Adapun landasan hukum yang dipergunakan di Indonesia diantaranya UU No.4 Th.1984 tentang wabah penyakit menular. Keputusan bersama Dirjen P2 dan PL, Dirjen Peternakan dan Dirjen PUOD No. KS.00-1.1554, No.99/TN.560/KPTS/DJP/Deptan/1999,N0.443.2-270 tentang Pelaksanaan Pembebasan dan Mempertahankan Daerah Bebas Rabies di wilayah Republik Indonesia.

1. Gambaran Klinis

Gejala Klinis Rabies terbagi menjadi 3 stadium berdasarkan diagnosa klinik:
a. Stadium prodromal, dengan gejala awal demam, malaise, nyeri tenggorokan selama beberapa hari.
b. Stadium Sensoris, penderita merasa nyeri, panas disertai kesemutan pada tempat bekas luka. Kemudian disusul dengan gejala cemas dan reaksi yang berlebihan terhadap rangsangan sensorik.
c. Stadium eksitasi, tonus otot-otot dan aktivitas simpatik menjadi meninggi dengan gejala hiperhidrosis, hipersalivasi, pupil dilatasi. Stadium ini mencapai puncaknya dengan muncul macam – macam fobi seperti hidrofobi, fotofobi, aerofobi. Tindak tanduk penderita tidak rasional dan kadang-kadang maniakal. Pada stadium ini dapat terjadi apneu, sianosis, konvulsa dan takikardi.
d. Stadium Paralyse, terjadi inkontinentia urine, paralysis flaksid di tempat gigitan, paralyse ascendens, koma dan meninggal karena kelumpuhan otot termasuk otot pernafasan.