Monday, November 14, 2011

Hasil Pertemuan Epidemiologi : TEPHINET ke-6 Bali Indonesia 2011


Pertemuan Konferensi Ilmiah Biregional TEPHINET ke-6, di Bali telah selesai. Sedikitnya 550 peserta hadir pada pertemuan ini, yaitu 350 peserta lokal dan 200 peserta internasional. Peserta berasal dari Indonesia, Afghanistan, Amerika Serikat, Australia, Bangladesh, Bhutan, Canada, China, Filipina, Haiti, Hongkong, India, Inggris, Jepang, Kamboja, Korea Selatan, Lao PDR, Malaysia, Mongolia, Myanmar, Nepal, Singapura, Spanyol, Sri Lanka, Syria, Taiwan, Thailand, Timor Leste, Uganda, dan Vietnam. Pada acara ini dipaparkan 120 presentasi oral dan 60 presentasi poster.

Konferensi TEPHINET tahun ini mengangkat tema Global Surveillance Networking for Global Health, berlangsung pada tanggal 8-11 November 2011. Organisasi internasional yang turut membantu konferensi ini adalah WHO, European Union, TEPHINET, SAFETYNET, UNICEF, US CDC, RESPOND, CAREID, REDI, Tuft University, dan lainnya.


TEPHINET (Training Programs in Field Epidemiology and Public Health Intervention Network) adalah jaringan epidemiologi global yang didedikasikan untuk menjaga standar kualitas pendidikan epidemiologi. Melalui TEPHINET, para tenaga kesehatan dapat meningkatkan kemampuannya dalam mengaplikasikan ilmu epidemiologi. Selain itu, untuk memperkuat sistem kesehatan masyarakat dengan program pendidikan FETP (Field Epidemiology Training Programme) dan FELTP (Field Epidemiology and Laboratory Training Programme) di seluruh dunia. FETP Indonesia merupakan salah satu anggota TEPHINET.

Dalam sambutannya Menkes menyatakan epidemiologi adalah pilar utama dalam kesehatan masyarakat. Dengan epidemiologi memungkinkan kita menentukan besarnya masalah, mengidentifikasi faktor-faktor risiko dan populasi rentan, merancang metode pengendalian dan memungkinkan pemantauan dan penilaian program.

“Melalui pengawasan rutin dan respon wabah, praktisi kesehatan masyarakat dapat mengatasi tantangan kesehatan dan mengalokasikan sumber daya untuk isu-isu penting. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri. Kami berbagi tanggung jawab dengan masyarakat, lembaga-lembaga akademik dan swasta,” kata Menkes.

Memahami epidemiologi, mekanisme kontrol dan alat respon bukanlah tugas mudah bagi sebuah negara. Sebagaimana negara lain, pemerintah Indonesia bekerja untuk mencapai target internasional dan mematuhi agenda global untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan penduduk, tambah Menkes.

Salah satu program regular TEPHINET adalah menyelenggarakan konferensi ilmiah internasional 2 tahunan. Setiap tahun konferensi global dan biregional dilaksanakan bergantian. Konferensi ini didesain sebagai sarana saling berbagi informasi mengenai epidemiologi dan terapannya. Selain itu juga sebagai latihan untuk menambah wawasan terbaik bagi mahasiswa. Mahasiswa dapat mengambil manfaat dari pengalaman berpresentasi di hadapan peserta internasional dan para ahli. Sementara para tenaga kesehatan masyarakat dapat saling bertukar kontak dan membangun jejaring untuk saling membantu bila menghadapi permasalahan ketika kembali ke negara masing-masing.

Dalam konferensi ini digelar 4 Simposium dengan 10 pembicara. Adapun topik yang dibahas yaitu International Health Regulation (IHR), Non Communicable Disease (NCD), Disaster and Epidemiology, Emerging Diseases.

Sejumlah pembicara diantaranya adalah Kepala Badan Litbangkes Kemenkes RI Prof. Trihono membahas Human and Animal Interface – the future challenges in zoonosis; Chairman of the Board of the UK Health Protection Agency, UK Dr David Heymann membahas mengenai Surveillance: Past, Present and future; dan Director of China FETP and Chief Epidemiologist, Chinese Center for Disease Control and Prevention, China Prof. Guang Zeng membahas Non Communicable Diseases – Epidemiology: The key to evidence.

Dalam konferensi ini ada Presentasi Oral dan Poster oleh 120 orang presentan oral dan 60 poster yang terpilih dari 383 abstrak yang masuk. Abstrak ini telah di review oleh reviewer internasional. Abstrak yang terpilih untuk presentasi oral berasal dari Indonesia (26), China (23), India Chennai (14), Filipina (9), Thailand (8), Australia (7), Vietnam (7), Mongolia (6), Kamboja (4), Malaysia (4), Laos (3), India Delhi (3), Jepang (2), Nepal (1), Singapura (1), Spanyol (1), Taiwan (1), dan Korea Selatan (1).

Hasil Pertemuan Epidemiologi : TEPHINET ke-6 Bali

No comments:

Post a Comment