Epidemiologi Flu Burung (Avian Influenza / H5N1)


 
Flu burung adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh virus influenza yang ditularkan oleh unggas. Virus influenza terdiri dari beberapa tipe, antara lain tipe A, tipe B dan tipe C. Influenza tipe A terdiri dari beberapa subtipe, antara lain H1N1, H3N2, H5N1 dan lain-lain.

Batasan KLB Flu Burung adalah ditemukannya 1 (satu) Kasus Konfirmasi H5N1 pada pemeriksan Laboratorium dengan RT-PCR.

Gambaran Klinis
Kasus Flu Burung (H5N1) pada manusia diklasifikasikan dalam 4 jenis kasus sesuai perkembangan diagnosis, yaitu seseorang dalam penyelidikan, kasus suspek FB, kasus probable dan kasus konfirmasi.

1) Seseorang Dalam Penyelidikan
Seseorang / sekelompok orang yang telah diputuskan oleh pejabat kesehatan berwenang untuk diinvestigasi terkait kemungkinan infeksi H5N1.

2) Kasus Suspek FB
Seseorang yang menderita demam panas ≥ 38o C disertai dengan satu atau lebih gejala berikut : batuk, sakit tenggorokan, pilek, sesak nafas (nafas pendek)
ditambah dengan satu atau lebih keadaan di bawah ini :
  • pernah kontak dengan unggas sakit/mati mendadak yang belum diketahui penyebabnya serta produk mentahnya (telur, jeroan) termasuk kotoran dalam 7 hari terakhir sebelum timbul gejala di atas. Yang dimaksud dengan kontak adalah merawat, membersihkan kandang, mengolah, membunuh, mengubur/membuang/membawa
  • pernah tinggal di lokasi yang terdapat kematian unggas yang tidak biasa dalam 7 hari terakhir sebelum timbul gejala di atas. Luas lokasi ditentukan dengan mobilisasi unggas yang mati
  • pernah kontak dengan penderita AI konfirmasi dalam 7 hari terakhir sebelum timbul gejala di atas
  • pernah kontak dengan spesimen AI H5N1 dalam 7 hari terakhir sebelum timbul gejala di atas
  • ditemukan adanya lekopenia (< 5000/μl)
  • ditemukan adanya antibodi terhadap H5 dengan pemeriksaan Hemaglutinase Inhibition (HI) test menggunakan eritrosit kuda; 

atau
Seseorang yang menderita Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) dengan satu atau lebih keadaan di bawah ini :
  • Leukopenia (<5000) atau limfositopenia
  • Foto toraks menggambarkan pneumonia atipikal atau infiltrat baru di kedua sisi paru yang makin meluas pada serial foto.

3) Kasus probable FB H5N1
Adalah kasus yang memenuhi kriteria kasus suspek dengan satu atau lebih keadaan di bawah ini:
  • Ditemukan adanya kenaikan titer antibodi 4 kali terhadap H5 dengan pemeriksaan uji HI menggunakan eritrosit kuda atau uji ELISA
  • Hasil laboratorium terbatas untuk Influenza H5 ( terdeteksinya antibodi spesifik H5 dalam spesimen serum tunggal) menggunakan neutralisasi test; Atau
  • Seseorang yang meninggal karena penyakit saluran napas akut yang tidak bisa dijelaskan penyebabnya dan secara epidemiologis menurut waktu tempat dan pajanan berhubungan dengan kasus probabel atau konfirmasi.


4) Kasus konfirmasi FB H5N1
Adalah kasus suspek atau kasus probabel dengan satu atau lebih keadaan di bawah ini :
  • Kultur (biakan) virus Influenza A/ H5N1 positif
  • PCR Influenza A/ H5N1 positif
  • Pada Imunofluorescence (IFA) test ditemukan antibodi positif dengan menggunakan antigen monoklonal Influenza A/H5N1
  • Kenaikan titer antibodi spesifik Influenza/H5N1 pada fase konvalesen sebanyak 4 kali atau lebih dibandingkan dengan fase akut dengan microneutralization test.

Etiologi
Saat ini diketahui bahwa subtipe yang paling virulen yang menyebabkan Flu Burung adalah subtipe H5N1. Dari hasil studi yang ada menunjukkan bahwa unggas yang sakit (oleh Influenza A H5N1) dapat mengeluarkan virus dengan jumlah besar dalam kotorannya. Virus tersebut dapat bertahan hidup di air sampai 4 hari pada suhu 22 °C dan lebih dari 30 hari pada 0ºC. Di dalam tinja unggas dan dalam tubuh unggas yang sakit virus dapat bertahan lebih lama, tetapi mati pada pemanasan 600C selama 30 menit. Dalam tinja unggas di suhu 4°C virus dapat bertahan sampai 35 hari, namun pada suhu kamar (37oC) hanya selama 6 hari.

Masa Inkubasi
Sampai saat ini masa inkubasi belum diketahui secara pasti namun untuk sementara para ahli (WHO) menetapkan masa inkubasi virus influenza ini pada manusia rata-rata adalah 3-5 hari (1-7 hari).

Sumber dan Cara Penularan
Avian influenza (H5N1) dapat menyebar dengan cepat diantara populasi unggas dengan kematian yang tinggi, bahkan dapat menyebar antar peternakan, dan menyebar antar daerah yang luas. Penyakit ini menular kepada manusia dapat melalui:
  • kontak langsung dengan sekret/lendir atau tinja binatang yang terinfeksi melalui saluran pernafasan atau mukosa konjunctiva (selaput lendir mata).
  • melalui udara yang tercemar virus Avian influenza (H5N1) yang berasal dari tinja atau sekret/lendir unggas atau binatang lain yang terinfeksi dalam jarak terbatas
  • kontak dengan benda yang terkontaminasi virus Avian influenza (H5N1)
Sampai saat ini secara epidemiologis dan virologis belum terbukti terjadinya penularan dari manusia ke manusia. Begitu juga dengan penularan pada manusia melalui daging yang dikonsumsi. Orang yang berisiko tinggi terserang flu burung (H5N1) ini adalah pekerja peternakan, penjual, penjamah unggas, produk mentahnya, dan petugas laboratorium serta masyarakat luas yang berdomisili dekat dengan unggas.

Pengobatan dan Profilaksis
a. Pengobatan
Antiviral diberikan secepat mungkin (48 jam pertama) :
  • Dewasa atau anak ≥ 13 tahun Oseltamivir 2x75 mg per hari selama 5 hari.
  • Anak > 1 tahun dosis oseltamivir 2 mg/kgBB, 2 kali sehari selama 5 hari.
  • Dosis oseltamivir dapat diberikan sesuai dengan berat badan sebagai berikut :
- ≤ 15 kg : 30 mg 2x/hari
- > 15 – 23 kg : 45 mg 2x/hari
- > 23 – 40 kg : 60 mg 2x/ hari
- > 40 kg : 75 mg 2x/hari 
  • Pada percobaan binatang tidak ditemukan efek teratogenik dan gangguan fertilitas dengan penggunaan oseltamivir. Saat ini belum tersedia data lengkap mengenai kemungkinan terjadinya malformasi atau kematian janin pada ibu yang mengkonsumsi oseltamivir. Karena itu penggunaan oseltamivir pada wanita hamil hanya dapat diberikan bila potensi manfaat lebih besar dari potensi risiko pada janin.

Pengobatan Lain :
  • Antibiotik spektrum luas yang mencakup kuman tipikal dan atipikal
  • Terapi lain seperti terapi simptomatik, vitamin, dan makanan bergizi

Obat yang dapat digunakan untuk pengobatan AI adalah Oseltamivir oral (Tamiflu) dan Zanamivir inhalasi oral. Pemberian Oseltamivir efektif pada < 48 jam pertama sejak mulai timbul gejala demam.

b. Profilaksis
Profilaksis 1x75 mg diberikan pada kelompok risiko tinggi terpajan termasuk wanita hamil, oseltamivir harus diberikan sebagai profilaksis, sampai 7-10 hari dari pajanan terakhir (rekomendasi kuat). Penggunaan profilaksis berkepanjangan dapat diberikan maksimal hingga 6-8 minggu sesuai dengan profilaksis pada influenza musiman.

Epidemiologi
Kasus Flu Burung pada manusia (kasus FB) di temukan pada tahun 1997 di Hongkong kemudian menyebar ke Belanda dan negara-negara di Asia, dan saat ini sudah tersebar di 13 negara termasuk Indonesia. Kasus FB konfirmasi di Indonesia, pertama kali ditemukan di Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten pada bulan Juni 2005. Kasus kemudian menyebar ke 13 propinsi (DKI Jakarta, Jabar, Banten, Jateng, Jatim, Sulsel, Bali, Lampung, Sumut, Sumbar, Riau, Sumsel, dan terakhir DI Yogyakarta ). Kasus terbanyak pada daerah yang mobilitas penduduk dan unggasnya sangat padat seperti daerah DKI Jakarta,Jabar, dan Banten.Sampai dengan laporan tanggal September 2011, telah ditemukan sebanyak 179 kasus FB konfirmasi dengan 147 kematian. Kasus Flu burung menyerang semua golongan umur tetapi terbanyak pada usia Balita sampai usia produktif dengan tidak membedakan antara lelaki dan perempuan.

Kejadian Luar Biasa
Kriteria KLB : Setiap kasus konfirmasi Flu Burung.
Namun demikian setiap kasus suspek FB ditangani seperti kasus konfirmasi sampai diketahui hasil negatif. 

1) Penyelidikan Epidemiologi
Penyelidikan epidemiologi dilakukan terhadap setiap laporan adanya kasus konfirmasi FB pada manusia dengan tujuan untuk penegakan diagnosis, mendapatkan kasus tambahan, gambaran klinis dan laboratorium, mengetahui sumber dan cara penularan baik sumber penularan manusia atau hewan penular, mengetahui risiko penularan virus FB (H5N1) diantara kontak kasus FB (H5N1), mengetahui gambaran epidemiologi dan virologi FB (H5N1). Adapun Pelaksanaan PE sebagai berikut :
a. Pencegahan Universal Untuk Tim Penyelidikan Epidemiologi
Gunakan APD seminimal mungkin, misalnya Sarung tangan dan Masker
b. Penyelidikan Epidemiologi dan Surveilans Kontak Kasus FB di Rumah Sakit
(1). Konfirmasi terlebih dahulu kepada pihak RS untuk maksud kedatangan
(2). Informasikan kepada pihak RS agar melakukan pemantauan terhadap petugas kesehatan selama 2 kali masa inkubasi sejak kontak terakhir dengan kasus dan
(3). Bila dalam pemantauan ada yang menderita ILI agar segera melapor ke Dinas Kesehatan
(4). Lakukan pengambilan swab nasofaring dan orofaring bila ada yang menderita ILI selama dalam pemantauan dan perlakukan seperti kasus suspek FB
c. Penyelidikan Epidemiologi dan Surveilans Kontak Kasus FB di Lapangan
(1). Berkoordinasi dengan petugas puskesmas untuk PE ke lapangan
(2). Lakukan Pencarian kasus tambahan
(3). Lakukan pencarian faktor resiko dan sumber penularan
(4). Lakukan pemantauan kontak baik kontak unggas maupun kontak kasus selama 2 kali masa inkubasi sejak kontak terakhir
(5). Lakukan pengambilan swab nasofaing dan orofaring bila ada kontak yang menunjukkan gejala ILI dan beri Tamiflu sesuai dosis
(6). Segera rujuk ke RS Rujukan FB dengan menginformasikan terlebih dahulu kepada RS
(7). Segera melapor 

2) Penanggulangan

Penanggulangan yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui apakah sudah terjadi penularan antar manusia atau belum. Kegiatan Penanggulangan sebagai berikut :
a. Belum terjadi penularan antar manusia
(1). Pencarian kasus tambahan
(2). Pemantauan kasus kontak unggas dan kasus selama 2 kali masa inkubasi sejak kontak terakhir.
(3). Merujuk ke RS Rujukan FB bila dalam pemantauan menemukan kasus ILI
(4). Penyuluhan kepada masyarakat apa yang harus dilakukan bila timbul gejala ILI
b. Sudah terjadi penularan antar manusia
(1). Karantina Wilayah
(2). Pemberian Profilaksis tamiflu kepada seluruh masyarakat di wilayah karantina
(3). Surveilans aktif di wilayah karantina
(4). Karantina rumah bila ada kasus di luar karantina wilayah

Sistem Kewaspadaan Dini KLB
Pada sistem kewapadaan dini flu burung dilakukan dengan mendeteksi adanya kasus pada hewan, peningkatan kasus ILI, adanya kluster pneumonia sehingga bisa dilakukan kewaspadaan dengan pengamatan ketat kepada yang kemungkinan dapat tertular.
SKD KLB dilakukan dengan melakukan kegiatan surveillans aktif dan pasif .
1) Sasaran
a. Peternakan unggas skala rumah tangga (sektor 3 dan 4), pasar unggas, pasar hewan, pasar tradisional (wet market), lalu lintas : unggas, produk mentah unggas dan pupuk dari kotoran unggas.
b. Hewan tertentu selain unggas yang mempunyai indikasi sebagai sumber penularan FB.
c. Semua penderita Influenza Like Illness (ILI) dan pneumonia serta kematian akibat pneumonia
d. Semua orang yang kontak dengan unggas yang sakit atau mati dan atau produk mentahnya (telor, jeroan ) serta kotorannya.
e. Semua orang yang kontak dengan kasus FB (suspek, probable, konfirmasi)
f. Semua orang yang kontak dengan spesimen FB
2) Jenis Pelaksanaan SKD KLB Flu Burung
Jadi untuk kewaspadaan pada surveilans flu burung, data dapat diperoleh dari :
Surveilans Epidemiologi Flu Burung adalah sebagai berikut :
a. Surveilans Faktor Risiko (surveilans influenza pada hewan)
b. Surveilans Influenza Like Illness (ILI, influenza klinis)
c. Surveilans Pneumonia
d. Surveilans Berbasis Laboratorium (serologi dan virologi)
e. Penyelidikan Epidemiologi pada populasi berisiko tinggi (wabah AI unggas)
f. Surveilans Kasus FB di Puskesmas dan RS
g. Surveilans Kasus FB pada RS Khusus Rawat Kasus
h. Penyelidikan Epidemiologi Kasus FB dan Surveilans Kontak Kasus Flu Burung 

3) Deteksi Dini Risiko Penularan AI (H5N1) Unggas - Manusia

Pendekatan yang diterapkan adalah sebagai berikut :
a. Menemukan sedini mungkin adanya kejadian wabah AI (H5N1) Unggas, dengan melaksanakan surveilans Wabah AI (H5N1) Unggas
b. Melaksanakan Penyelidikan Epidemiologi dan Surveilans ILI diantara Kontak Unggas pada wabah AI (H5N1) tersebut diatas
c. Pemeriksaan kasus ILI diantara Kontak Unggas. Memeriksa lebih teliti dengan pemeriksaan laboratorium setiap kasus ILI diantara kontak Unggas tersebut untuk mengetahui adanya virus FB (H5N1), yaitu dengan mengambil spesimen usap nasofaring, usap tenggorok dan darah tersebut untuk dilakukan Uji PCR dan atau Uji Serologi serta identifikasi hubungan epidemiologi dan kesamaan virus AI (H5N1) pada unggas
d. Identifikasi sifat dan peta sebaran virus-virus yang ditemukan pada unggas dan manusia sebagai bagian dari Surveilans Virologi AI (H5N1)
e. Berdasarkan data Penyelidikan Epidemiologi dan Surveilans ILI diantara Kontak Unggas pada Wabah AI (H5N1) tersebut dapat ditetapkan gambaran epidemiologi menurut waktu, tempat dan orang serta besarnya risiko penularan AI (H5N1) unggas - manusia
f. Disamping itu, adanya penularan AI (H5N1) unggas – manusia dapat dilakukan dengan mengidentifikasi atau menelusuri adanya kontak dengan unggas sebagai sumber penularan terhadap kasus-kasus FB (H5N1) manusia yang ditemukan. Kontak dengan unggas dimaksud adalah kontak dengan unggas sakit atau mati mendadak karena AI (H5N1) atau yang belum diketahui penyebabnya serta produk mentah (telur, jeroan) dan kotorannya pada 7 hari terakhir sebelum timbul gejala. Kontak dengan unggas adalah merawat, mengolah, memegang, membawa unggas atau membersihkan kandangnya
4) Deteksi Dini Risiko Penularan AI (H5N1) Manusia - Manusia
Pendekatan yang diterapkan adalah sebagai berikut :
i. Menemukan sedini mungkin adanya Kasus FB (H5N1) Manusia (kasus indeks) melalui Surveilans AI di Unit Pelayanan
ii. Melaksanakan Penyelidikan Epidemiologi dan Surveilans ILI diantara Kontak Kasus FB (H5N1) manusia tersebut diatas
iii. Pemeriksaan kasus ILI diantara orang yang kontak dengan Kasus Indeks. Yaitu memeriksa lebih teliti dengan pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui adanya virus FB (H5N1) pada kasus ILI tersebut, dengan mengambil spesimen usap nasofaring, usap tenggorok dan darahnya untuk dilakukan Uji PCR dan atau Uji Serologi serta identifikasi hubungan epidemiologi dan kesamaan virus FB (H5N1) dengan kasus indeks dan virus pada unggas
iv. Identifikasi sifat dan peta virus-virus yang ditemukan sebagai bagian dari Surveilans Virologi AI (H5N1)
v. Kemungkinan telah terjadinya penularan FB (H5N1) manusia – manusia juga dapat dilakukan dengan mengidentifikasi adanya kontak dengan kasus FB (H5N1) lain (sumber penularan).
vi. Berdasarkan data Penyelidikan Epidemiologi dan Surveilans ILI diantara Kontak Kasus FB (H5N1) tersebut dapat ditetapkan gambaran epidemiologi menurut waktu, tempat dan orang serta besarnya risiko penularan FB (H5N1) manusia – manusia.
vii. Penemuan kasus FB (H5N1) manusia juga digunakan untuk mengidentifikasi kemungkinan telah terjadinya penularan AI (H5N1) unggas – manusia yaitu dengan mengidentifikasi adanya kontak dengan unggas dengan FB (H5N1) (sumber penularan).


Comments

Popular posts from this blog

Kriteria KLB Menurut Permenkes 1501 Tahun 2010

Komponen dan Kegiatan Pokok Surveilans Epidemiologi

Tujuan Surveilans Epidemiologi