Thursday, June 13, 2013

Leptospirosis

Masyarakat Internasonal Pemerhati Leptospirosis (International Leptospirosis Society/ILS) menyatakan bahwa Indonesia sebagai negara dengan insiden Leptospirosis yang tinggi. Diperkirakan Leptospirosis sudah ada di 33 provinsi karena berkaitan dengan keberadaan binatang tikus (Rodent) sebagai reservoir utama disamping binatang penular lain seperti anjing, kucing, sapi dan lain-lain, serta lingkungan sebagai faktor resiko. Laporan insidens lepotospirosis sangat dipengaruhi oleh tersedianya perangkat laboratorium diagnostik, indeks kecurigaan klinik dan insidens penyakit itu sendiri. 

Penularan pada manusia terjadi melalui paparan pekerjaan, rekreasi atau hobi dan bencana alam. Kontak langsung manusia dengan hewan terinfeksi di areal pertanian, peternakan, tempat pemotongan hewan, petugas laboratorium yang menangani tikus, pengawasan hewan pengerat. Sedangkan kontak tidak langsung penting bagi pekerja pembersih selokan, buruh tambang, prajurit, pembersih septictank, peternakan ikan, pengawas binatang buruan, pekerja kanal, petani kebun dan pemotongan gula tebu. Penyakit ini sifatnya musiman. Di negara beriklim sedang puncak kasus cenderung terjadi pada musim panas dan musim gugur karena temperatur. Sementara pada negara tropis insidens tertinggi terjadi selama musim hujan.

1. Definisi Kasus
Leptospirosis adalah penyakit zoonosis akut disebabkan oleh bakteri Leptospira dengan spektrum penyakit yang luas dan dapat menyebabkan kematian (WHO,2009). Ada 3 (tiga) kriteria yang ditetapkan dalam mendefinisikan kasus Leptospirosis yaitu :

i. Kasus Suspek
1) Demam akut (>=38.5°C) dengan atau tanpa sakit kepala hebat, disertai :
a. Mialgia (pegal-pegal)
b. Malaise (lemah)
c. Conjuctival suffusion
2) Ada riwayat kontak dengan lingkungan yang terkontaminasi bakteri Leptospira dalam 2 minggu sebelumnya:
a. Kontak dengan air yang terkontaminasi kuman Leptospira/ urine tikus saat terjadi banjir.
b. Kontak dengan sungai, danau dalam aktifitas mencuci, mandi berkaitan pekerjaan seperti tukang perahu, rakit bambu dan lain-lain
c. Kontak di persawahan atau perkebunan berkaitan dengan pekerjaan sebagai petani / pekerja perkebunan yang tidak mengunakan alas kaki.
d. Kontak erat dengan binatang lain seperti sapi, kambing, anjing yang dinyatakan secara Laboratorium terinfeksi Leptospira.
e. Terpapar seperti menyentuh hewan mati, kontak dengan cairan infeksius saat hewan berkemih, menyentuh bahan lain seperti placenta, cairan amnion, menangani ternak seperti memerah susu, menolong hewan melahirkan dan lain-lain.
f. Memegang atau menangani spesimen hewan/ manusia yang diduga terinfeksi Leptospirosis dalam suatu laboratorium atau tempat lainnya.
g. Kontak dengan sumber infeksi yang berkaitan dengan pekerjaan seperti: dokter hewan, dokter, perawat, pekerja potong hewan, petani, pekerja perkebunan, petugas kebersihan di rumah sakit, pembersih selokan, pekerja tambang,pekerja tambak udang/ikan air tawar, tentara, pemburu.
h. Kontak dengan sumber infeksi yang berkaitan dengan hobby dan olah raga seperti: pendaki gunung, memancing, berenang, arung jeram, trilomba juang (triathlon) dan lain-lain.