Monday, February 25, 2013

Mengenal virus Flu Burung Jenis Baru, H5N1 clade 2.3.2

Sejauh ini telah ditemukan virus Flu Burung jenis baru, yaitu virus H5N1 clade 2.3.2. Jenis virus yang lama adalah H5N1 clade 2.3.1. Sudah banyak Negara yang melaporkan adanya virus H5N1 clade baru (2.3) pada unggas seperti Iran, Nepal, India, Bangladesh, Bhutan, China, Vietnam, Japan, Rusia, Indonesia serta beberapa negara lainnya. Di Indonesia sendiri selama ini clade pada unggas yang ditemukan adalah clade 2.1, dan pada bulan September 2012 baru ditemukan clade baru 2.3 di beberapa daerah yang sebagian besar menyerang unggas terutama jenis itik.

Penularan virus H5N1 clade baru 2.3 kepada manusia, pernah dilaporkan terjadi di Bangladesh yaitu 3 kasus dan China termasuk Hongkong sebanyak 5 kasus, sehingga total kasus FB pada manusia didunia dengan baru clade 2.3 berjumlah 8 kasus. Dari 8 kasus tersebut 3 kasus diantaranya meninggal. Angka ini jika dibandingkan dengan jumlah kasus FB secara keseluruhan diseluruh dunia sejak tahun 2003 hingga Desember 2012 , yang sebagian besar adalah clade 2.1 berjumlah 610 kasus dan 360 kematian, angka fatalitas sebesar 59,02 %. Untuk Indonesia, hingga saat ini belum ditemukan kasus FB pada manusia dengan clade baru 2.3.

Virus clade 2.3.2 bisa jadi merupakan mutasi dari 2.1 atau memang spesies yang berbeda, dimana ada dua kemungkinan munculnya virus clade baru 2.3 tersebut yaitu, kemungkinan pertama memang terjadi mutasi genetic drift atau mutasi genetic shift pada virus tersebut. Adapun kemungkinan kedua adalah adanya introduksi virus melalui masuknya unggas jenis itik dan atau produknya atau melalui migrasi unggas liar.

Banyak faktor yang ikut berperan untuk terjadinya penularan virus dari hewan ke manusia antara lain dari sisi virusnya dan dari sisi manusianya.
  • Dari sisi virusnya; Ada sebagian virus yang memang dimungkinkan dapat hidup pada jaringan/sel manusia dan jaringan/sel binatang, namun juga ada virus tertentu yang hanya dapat hidup pada jaringan/sel binatang sehingga tidak menular kepada manusia. 
  • Dari sisi manusianya; Seseorang untuk dapat terinfeksi/tertular suatu virus dari hewan dan menjadi sakit juga banyak faktor yang mempengaruhinya seperti daya tahan tubuh, lamanya kontaminasi dengan virus serta dosis/banyak nya virus yang mengkontaminasi. Disamping itu pola hidup seperti kebersihan perorangan dan sanitasi lingkungan juga akan ikut mempengaruhi terjadinya penularan virus.
Sejauh ini belum ada bukti ilmiah ada tidaknya hubungan antara cuaca atau musim dengan penularan virus H5N1 sesama hewan/unggas atau hewan ke manusia.

Sejauh ini Indonesia belum mempunyai pengalaman yang mendalami tentang media penularan dari itik ke manusia karena sejauh ini Indonesia belum mempunyai kasus Flu Burung pada manusia yang diakibatkan oleh clade baru 2.3. Akan tetapi secara umum dapat diperkirakan bahwa media penularanya adalah tidak jauh berbeda dengan media penularan pada clade 2.1.

Kalau untuk clade 2.3.1 pada ayam ditunjukkan diantaranya dengan jengger yang biru keunguan, keluar cairan dari mata, dan sebagainya. Dari informasi kesehatan hewan maka secara umum tanda-tanda Itik terkena virus H5N1 clade 2.3. adalah : Tortikolis (itik akan berputar-putar, kemudian akan jatuh), Kejang-kejang, Sulit berdiri, Warna selaput mata berubah menjadi putih, Mengakibatkan kematian yang tinggi dan Pada itik dewasa terjadi penurunan produksi telur.

Tanda-tanda manusia yang tertular clade 2.3, seperti yang ada di Cina adalah Demam tinggi, Batuk, Pilek, dan Sesak bernafas.

Jadi, penanggulangan KLB/ wabah untuk virus Flu burung clade baru sama dengan penanggulangan KLB/ wabah virus Flu burung clade lama. Begitupula dengan kewaspadaan dininya.

Infeksi Virus Korona

World Health Organization (WHO) telah menginformasikan bahwa di Inggris terjadi lagi satu kasus terinfeksi virus korona. Dari kasus tersebut, tidak ada riwayat bepergian ke Arab, namun merupakan kerabat dari pasien sebelumnya. Jadi, untuk kasus terakhir ini, ada dugaan awal kemungkinan penyebaran dari manusia ke manusia, walaupun belum ada penularan berkelanjutkan ke kerabat yang lain. 

Penanggulangan lapangan masih terus dilakukan secara intensif di Inggris, dan hasil akan terus dilaporkan melalui mekanisme International Health Regulation (IHR) ke semua negara, termasuk Indonesia. Virus Korona dikenal luas di tahun 2003 sebagai penyebab penyakit SARS yang cukup menghebohkan dengan angka kematian yang tinggi pula.

Jenis2 virus korona yang telah terdeteksi adalah HCoV-229E, HCoV-OC43, SARS-CoV, NL63/NL/New Haven coronavirus, HKU1-CoV, NCoV (Novel coronavirus 2012) dan HCoV-EMC.

Hingga tanggal 22 Februari 2013 ini, WHO melaporkan di dunia ada 13 kasus infeksi virus korona dengan tujuh pasien diantaranya meninggal dunia. Gejala penyakit, secara umum adalah demam tinggi, sesak nafas, batuk dan berujung pada gangguan paru dan saluran napas yang berat. 

Pengobatan dilakukan di rumah sakit sesuai kaidah penanganan pasien dengan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Sampai sekarang, belum ada "travel restriction" ke negara manapun dan juga belum tersedia vaksin untuk virus korona. 

Untuk kewaspadaan, semua Petugas Surveilans Kabupaten agar meningkatan surveilans Influenza Like Illness (ILI) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS), khususnya kalau ada cluster.

Epidemiologi Flu Burung (Avian Influenza / H5N1)


 
Flu burung adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh virus influenza yang ditularkan oleh unggas. Virus influenza terdiri dari beberapa tipe, antara lain tipe A, tipe B dan tipe C. Influenza tipe A terdiri dari beberapa subtipe, antara lain H1N1, H3N2, H5N1 dan lain-lain.

Batasan KLB Flu Burung adalah ditemukannya 1 (satu) Kasus Konfirmasi H5N1 pada pemeriksan Laboratorium dengan RT-PCR.

Gambaran Klinis
Kasus Flu Burung (H5N1) pada manusia diklasifikasikan dalam 4 jenis kasus sesuai perkembangan diagnosis, yaitu seseorang dalam penyelidikan, kasus suspek FB, kasus probable dan kasus konfirmasi.

1) Seseorang Dalam Penyelidikan
Seseorang / sekelompok orang yang telah diputuskan oleh pejabat kesehatan berwenang untuk diinvestigasi terkait kemungkinan infeksi H5N1.

2) Kasus Suspek FB
Seseorang yang menderita demam panas ≥ 38o C disertai dengan satu atau lebih gejala berikut : batuk, sakit tenggorokan, pilek, sesak nafas (nafas pendek)
ditambah dengan satu atau lebih keadaan di bawah ini :
  • pernah kontak dengan unggas sakit/mati mendadak yang belum diketahui penyebabnya serta produk mentahnya (telur, jeroan) termasuk kotoran dalam 7 hari terakhir sebelum timbul gejala di atas. Yang dimaksud dengan kontak adalah merawat, membersihkan kandang, mengolah, membunuh, mengubur/membuang/membawa
  • pernah tinggal di lokasi yang terdapat kematian unggas yang tidak biasa dalam 7 hari terakhir sebelum timbul gejala di atas. Luas lokasi ditentukan dengan mobilisasi unggas yang mati
  • pernah kontak dengan penderita AI konfirmasi dalam 7 hari terakhir sebelum timbul gejala di atas
  • pernah kontak dengan spesimen AI H5N1 dalam 7 hari terakhir sebelum timbul gejala di atas
  • ditemukan adanya lekopenia (< 5000/μl)
  • ditemukan adanya antibodi terhadap H5 dengan pemeriksaan Hemaglutinase Inhibition (HI) test menggunakan eritrosit kuda; 

atau
Seseorang yang menderita Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) dengan satu atau lebih keadaan di bawah ini :
  • Leukopenia (<5000) atau limfositopenia
  • Foto toraks menggambarkan pneumonia atipikal atau infiltrat baru di kedua sisi paru yang makin meluas pada serial foto.

3) Kasus probable FB H5N1
Adalah kasus yang memenuhi kriteria kasus suspek dengan satu atau lebih keadaan di bawah ini:
  • Ditemukan adanya kenaikan titer antibodi 4 kali terhadap H5 dengan pemeriksaan uji HI menggunakan eritrosit kuda atau uji ELISA
  • Hasil laboratorium terbatas untuk Influenza H5 ( terdeteksinya antibodi spesifik H5 dalam spesimen serum tunggal) menggunakan neutralisasi test; Atau
  • Seseorang yang meninggal karena penyakit saluran napas akut yang tidak bisa dijelaskan penyebabnya dan secara epidemiologis menurut waktu tempat dan pajanan berhubungan dengan kasus probabel atau konfirmasi.