Monday, September 30, 2013

GHPR dan Rabies



Kasus gigitan hewan penular rabies (GHPR) dan Rabies masih menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat. Betapa tidak, penanganan GHPR memerlukan biaya yang tidak sedikit, CFR rabies pun mencapai 100%.

Penyakit rabies merupakan penyakit menular akut dari susunan syaraf pusat yang disebabkan oleh virus rabies. Ditularkan oleh hewan penular rabies terutama anjing, kucing dan kera melalui gigitan, aerogen, transplantasi atau kontak dengan bahan yang mengandung virus rabies pada kulit yang lecet atau mukosa. Penyakit ini apabila sudah menunjukkan gejala klinis pada hewan dan manusia selalu diakhiri dengan kematian, angka kematian Case Fatality Rate (CFR) mencapai 100% dengan menyerang pada semua umur dan jenis kelamin. Kekebalan alamiah pada manusia sampai saat ini belum diketahui.

Adapun landasan hukum yang dipergunakan di Indonesia diantaranya UU No.4 Th.1984 tentang wabah penyakit menular. Keputusan bersama Dirjen P2 dan PL, Dirjen Peternakan dan Dirjen PUOD No. KS.00-1.1554, No.99/TN.560/KPTS/DJP/Deptan/1999,N0.443.2-270 tentang Pelaksanaan Pembebasan dan Mempertahankan Daerah Bebas Rabies di wilayah Republik Indonesia.

1. Gambaran Klinis

Gejala Klinis Rabies terbagi menjadi 3 stadium berdasarkan diagnosa klinik:
a. Stadium prodromal, dengan gejala awal demam, malaise, nyeri tenggorokan selama beberapa hari.
b. Stadium Sensoris, penderita merasa nyeri, panas disertai kesemutan pada tempat bekas luka. Kemudian disusul dengan gejala cemas dan reaksi yang berlebihan terhadap rangsangan sensorik.
c. Stadium eksitasi, tonus otot-otot dan aktivitas simpatik menjadi meninggi dengan gejala hiperhidrosis, hipersalivasi, pupil dilatasi. Stadium ini mencapai puncaknya dengan muncul macam – macam fobi seperti hidrofobi, fotofobi, aerofobi. Tindak tanduk penderita tidak rasional dan kadang-kadang maniakal. Pada stadium ini dapat terjadi apneu, sianosis, konvulsa dan takikardi.
d. Stadium Paralyse, terjadi inkontinentia urine, paralysis flaksid di tempat gigitan, paralyse ascendens, koma dan meninggal karena kelumpuhan otot termasuk otot pernafasan.

Thursday, June 13, 2013

Leptospirosis

Masyarakat Internasonal Pemerhati Leptospirosis (International Leptospirosis Society/ILS) menyatakan bahwa Indonesia sebagai negara dengan insiden Leptospirosis yang tinggi. Diperkirakan Leptospirosis sudah ada di 33 provinsi karena berkaitan dengan keberadaan binatang tikus (Rodent) sebagai reservoir utama disamping binatang penular lain seperti anjing, kucing, sapi dan lain-lain, serta lingkungan sebagai faktor resiko. Laporan insidens lepotospirosis sangat dipengaruhi oleh tersedianya perangkat laboratorium diagnostik, indeks kecurigaan klinik dan insidens penyakit itu sendiri. 

Penularan pada manusia terjadi melalui paparan pekerjaan, rekreasi atau hobi dan bencana alam. Kontak langsung manusia dengan hewan terinfeksi di areal pertanian, peternakan, tempat pemotongan hewan, petugas laboratorium yang menangani tikus, pengawasan hewan pengerat. Sedangkan kontak tidak langsung penting bagi pekerja pembersih selokan, buruh tambang, prajurit, pembersih septictank, peternakan ikan, pengawas binatang buruan, pekerja kanal, petani kebun dan pemotongan gula tebu. Penyakit ini sifatnya musiman. Di negara beriklim sedang puncak kasus cenderung terjadi pada musim panas dan musim gugur karena temperatur. Sementara pada negara tropis insidens tertinggi terjadi selama musim hujan.

1. Definisi Kasus
Leptospirosis adalah penyakit zoonosis akut disebabkan oleh bakteri Leptospira dengan spektrum penyakit yang luas dan dapat menyebabkan kematian (WHO,2009). Ada 3 (tiga) kriteria yang ditetapkan dalam mendefinisikan kasus Leptospirosis yaitu :

i. Kasus Suspek
1) Demam akut (>=38.5°C) dengan atau tanpa sakit kepala hebat, disertai :
a. Mialgia (pegal-pegal)
b. Malaise (lemah)
c. Conjuctival suffusion
2) Ada riwayat kontak dengan lingkungan yang terkontaminasi bakteri Leptospira dalam 2 minggu sebelumnya:
a. Kontak dengan air yang terkontaminasi kuman Leptospira/ urine tikus saat terjadi banjir.
b. Kontak dengan sungai, danau dalam aktifitas mencuci, mandi berkaitan pekerjaan seperti tukang perahu, rakit bambu dan lain-lain
c. Kontak di persawahan atau perkebunan berkaitan dengan pekerjaan sebagai petani / pekerja perkebunan yang tidak mengunakan alas kaki.
d. Kontak erat dengan binatang lain seperti sapi, kambing, anjing yang dinyatakan secara Laboratorium terinfeksi Leptospira.
e. Terpapar seperti menyentuh hewan mati, kontak dengan cairan infeksius saat hewan berkemih, menyentuh bahan lain seperti placenta, cairan amnion, menangani ternak seperti memerah susu, menolong hewan melahirkan dan lain-lain.
f. Memegang atau menangani spesimen hewan/ manusia yang diduga terinfeksi Leptospirosis dalam suatu laboratorium atau tempat lainnya.
g. Kontak dengan sumber infeksi yang berkaitan dengan pekerjaan seperti: dokter hewan, dokter, perawat, pekerja potong hewan, petani, pekerja perkebunan, petugas kebersihan di rumah sakit, pembersih selokan, pekerja tambang,pekerja tambak udang/ikan air tawar, tentara, pemburu.
h. Kontak dengan sumber infeksi yang berkaitan dengan hobby dan olah raga seperti: pendaki gunung, memancing, berenang, arung jeram, trilomba juang (triathlon) dan lain-lain.

Friday, April 5, 2013

Sindrom Lumpuh MeCP2

MeCP2 diduga hanya terjadi pada 150 orang di penjuru dunia. Penyakit ini dikatakan hampir mirip dengan Sindrom Rett yang berarti penderitanya akan lupa bagaimana caranya melakukan fungsi motorik seperti berjalan dan berbicara ketika ia beranjak dewasa.

MeCP2 sendiri baru diketemukan oleh ilmuwan pada tahun 2005. Penyakit yang diketahui hanya menyerang laki-laki ini terjadi ketika salah satu gen yang bertugas mengontrol otak mengalami penggandaan. Awalnya, penderita akan mulai mengalami kejang-kejang di usia lima tahun dan kondisi ini menyebabkan otaknya berhenti berfungsi. Akibatnya penderita harus bergantung pada
perawatan keluarga selama 24 jam penuh. Selain itu, separuh penderita diketahui meninggal dunia sebelum mencapai usia 25 tahun.

Sumber: detikhealth

Flu Burung H7N9

Korban tewas akibat terjangkit virus flu burung di China meningkat menjadi lima orang. Jenis virus flu burung ini sebelumnya diketahui tidak pernah menulari manusia. Diberitakan CNN yang mengutip kantor berita Xinhua, Kamis 4 April 2013, saat ini sudah ada 14 orang yang terjangkit virus jenis H7N9 ini di wilayah timur China. Kasus ini pertama kali dikemukakan China pada hari Minggu lalu. Dua kematian terakhir terjadi pada Rabu lalu di rumah sakit Shanghai. Hanya satu korban
yang tewas di luar wilayah Shanghai. Salah satu korban tewas Rabu lalu diketahui berusia 48 tahun yang bekerja sebagai pengirim ayam ternak. Para korban berusia antara 20-80 tahun, tinggal di wilayah Shanghai, Zhejiang dan Jiangsu.

Saat ini, pemerintah China bekerja sama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular Amerika Serikat (CDC) tengah berusaha mencari tahu penyebab penularan tersebut. "Kami belum tahu bagaimana manusia bisa tertular virus ini," kata Dr. Joseph Bresee, kepala pencegahan dan epidemi divisi influenza di CDC. Saat ini, kata Bresee, tim ahli tengah bekerja keras untuk mencari vaksin penyakit ini. Flu burung H7N9 mengandung virus patogenik rendah yang tidak mudah menular ke manusia. Sebagian besar kasus kematian oleh flu burung disebabkan oleh virus H5N1, yang sempat "menghantui" populasi Asia sejak pada 2003.

Perbedaan antara strain flu burung dan H5N1? Virus influenza ditandai oleh hemagglutinin (H) dan protein neuraminidase (N) pada virus. Virus ini memiliki 17 protein hemagglutinin dan 10 protein neuraminidase. Sebagai contoh, virus flu burung yang kita telah dikenal sebelumnya disebut H5N1, sehingga perbandingannya adalah 5 hemaglutinin dan 1 neuraminidase. Sementara virus baru ini memiliki struktur protein baru yang disebut H7N9.

Apakah gejala H7N9 mirip dengan H5N1? Ya, pada umumnya gejala keduanya cukup mirip. Dimulai dengan demam tinggi dan menjadi pneumonia atau radang paru-paru. Hal ini mirip dengan apa yang terjadi di H5N1. Gejala flu umumnya seperti gejala saluran pernapasan atas dalam kasus-kasus ringan, dan kasus yang parah ketika virus menyerang ke paru-paru.

Wednesday, March 27, 2013

Diagnosa Cepat DBD

Salah satu gejala demam berdarah dengue (DBD) yang masih banyak diyakini masyarakat adalah munculnya bintik-bintik merah di kulit. Tapi terkadang bintik merah ini tidak muncul di permukaan kulit. "Sebenarnya ada cara yang sederhana yaitu dengan diprovokasi gitu," ujar dr Darmawali Handoko, MEpid, Kepala seksi standarisasi sub- direktorat arbovirosis, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang (P2B2) Kemenkes dalam acara Pengumuman Jumantik dan Kelurahan Teladan Kampanye 'Tepat Tangani Demam' di Restoran Tesate, Jakarta, Kamis (22/11/2012). dr Koko menjelaskan cara provokasi ini adalah dengan melakukan pembendungan antara tensi (tekanan darah) diastolik dan sistolik, kemudian dibiarkan selama 5-10 menit lalu lihat apakah timbul bintik merah atau tidak. "Jadi tidak perlu menunggu sampai bintik merah ini timbul di permukaan, biasanya dilakukan oleh petugas kesehatan, itu salah satu cara untuk melihat tanda-tanda awal demam berdarah," ungkapnya. dr Koko menuturkan jumlah kasus demam berdarah pada tahun 2011 mencapai 65.000-an kasus per tahun. Namun jumlah kasus biasanya tidak sama setiap bulannya, karena tergantung dari banyaknya genangan air. "Sudah musim hujan, kewaspadaan harus lebih besar lagi, tidak hanya dirumah, tapi juga di hotel atau tempat makan. Dan para jumantik ini bisa menjadi pengawas," tutur dr Koko. Berdasarkan data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Kemenkes, seseorang dicurigai demam berdarah jika ia mengalami gejala-gejala berikut ini yaitu: 1. Demam mendadak ditambah 2 gejala di bawah ini 2. Sakit kepala 3. Nyeri di belakang mata 4. Nyeri otot 5. Nyeri tulang 6. Ruam (bercak merah) di kulit 7. Muncul tanda peedarahan 8. Leukosit atau sel darah putihnya rendah 9. Uji serologi dengue positif 10. Ada tetangga yang diketahui positif demam berdarah dengue Fase dari demam berdarah ini ada masa inkubasinya yaitu sekitar 5-9 hari mulai dari infeksi sampai dengan timbul gejala. Lalu dilanjutkan dengan fase akut yang mana sudah muncul gejala sekitar 1-3 hari dan pada hari ke 4-6 merupakan fase kritis. Pada kondisi itulah bisa terjadi kebocoran pembuluh darah kapiler. Selain melalui tes bendung ini, diagnosis DBD bisa dilakukan melalui tes IgG/IgM dan juga tes NSI. Kedua tes ini akurat, tapi harus melihat waktu pemeriksaannya. Jika demam baru terjadi 2 hari maka dilakukan tes SNI, tapi jika demam hari kelima maka dilakukan tes IgG/IgM.

sumber : detikhealth

Perkembangan Penyakit Demam Berdarah Dengue

Baru-baru ini World Health Organization menyatakan bahwa demam berdarah (dengue) merupakan penyakit tropis yang paling cepat menyebar dan dikatakan sebagai 'ancaman pandemi' baru. Padahal pada tahun 1950-an penyakit yang ditularkan lewat gigitan nyamuk betina ini hanya dapat ditemukan di segelintir wilayah. Kondisinya kini berbeda karena demam berdarah telah menyebar hingga ke 125 negara. Hal ini jauh lebih banyak daripada kasus malaria yang selama ini disebut sebagai penyakit paling terkenal yang 'dibawa' oleh nyamuk sepanjang sejarah. "Pada tahun 2012, demam berdarah tercatat sebagai penyakit akibat virus yang penyebarannya paling cepat dan berpotensi epidemi di seluruh dunia, bahkan dilaporkan mengalami peningkatan kasus hingga 30 kali lipat dari kondisi 50 tahun yang lalu," papar WHO dalam sebuah pernyataan seperti dikutip dari foxnews, Kamis (17/1/2013). "Di seluruh dunia, 2 juta kasus demam berdarah dilaporkan terjadi setiap tahunnya di 100 negara, terutama di benua Asia, Afrika dan Amerika Latin serta menyebabkan 5.000-6.000 kasus kematian. Tapi angka sebenarnya bisa jadi lebih tinggi karena penyakit ini telah menyebar secara eksponensial dan ditemukan di semua benua," ungkap Dr. Raman Velayudhan, seorang pakar di departemen pengendalian penyakit tropis di bawah WHO. WHO pun telah memperkirakan bahwa rata-rata terjadi 50 juta kasus demam berdarah setiap tahunnya. "Padahal ini hanyalah perkiraan yang sangat konservatif. Namun kami memastikan bahwa demam berdarah adalah penyakit yang paling berbahaya dan paling cepat penularannya sekarang ini, belum lagi sifatnya yang rentan menjadi epidemi meski sebenarnya ini baru ancaman," tandasnya. Berbicara dalam briefing pasca peluncuran laporan terbaru WHO tentang 17 penyakit tropis yang diabaikan (neglected tropical diseases) di seluruh penjuru dunia, Velayudhan mengatakan, "Nyamuknya diam-diam telah mengembangkan distribusinya hingga ke lebih dari 150 negara. Itulah mengapa ancaman demam berdarah muncul di seluruh dunia." Di Eropa, nyamuk aedes ini telah menyebabkan demam berdarah sekaligus penyakit chikungunya di 18 negara. Kebanyakan diperoleh dari impor kerajinan bambu atau ban bekas dari negara berkembang. Ini adalah wabah demam berdarah pertamanya sejak tahun 1920-an dengan jumlah penderita mencapai 2.000 orang, khususnya di sebuah pulau di Portugis bernama Madeira. "Namun kami berupaya menangani kondisi ini dengan cara yang lebih sistematis seperti mengontrol masuknya vektor dari berbagai titik masuk -pelabuhan, bandara hingga ke perlintasan darat, meski sebenarnya sulit untuk mendeteksi keberadaan nyamuk tersebut berikut telur-telurnya," katanya. Sayangnya, hingga kini belum ditemukan pengobatan yang spesifik untuk mengatasi penyakit ini tapi deteksi dini dan akses terhadap layanan kesehatan yang memadai dapat menurunkan tingkat kematian hingga di bawah 1 persen. "Anda harus tahu penyakit ini tak ada obatnya dan vaksin-vaksinnya pun masih dalam tahap penelitian," timpalnya. Yang terbaru tengah dikembangkan oleh produsen obat asal Prancis, Sanofi SA. Hanya saja efektivitas vaksin ini diketahui baru mencapai 30 persen setelah dilakukan percobaan klinis berskala besar di Thailand. Kendati begitu, tim peneliti mengatakan bahwa untuk pertama kalinya hasil percobaan ini menunjukkan adanya vaksin yang aman dan berpotensi menjadi pengobatan demam berdarah.

sumber: detikhealth

Sunday, March 10, 2013

Kelelawar Penyebar Virus

Beberapa virus dari hewan bisa berpindah ke manusia dan menyebabkan penyakit. Sebelumnya, tikus dianggap sebagai hewan yang paling berbahaya karena pernah memicu wabah pes yang melenyapkan separuh populasi Eropa di abad pertengahan. Belum lagi urine tikus yang menyebabkan Leptospirosis. Namun hasil penelitian menemukan kelelawar lebih berbahaya. "Sepertinya ada sesuatu yang berbeda mengenai kelelawar dalam hal kemampuannya menjadi inang infeksi zoonosis (penyakit manusia yang ditularkan dari hewan)," kata peneliti, David Hayman, ahli epidemiologi satwa liar dari Colorado State University (CSU), seperti dilansir LiveScience.

Para peneliti membandingkan kemampuan tikus dan kelelawar dalam hal menjadi inang berbagai jenis virus. Caranya dengan menganalisa data semua virus yang diidentifikasi berasal dalam hewan. Peneliti menemukan ada 179 virus yang bisa menghuni tikus, sebanyak 68 di antaranya bisa ditularkan ke manusia. Pada kelelawar, ada 137 virus yang bisa menghuni dan 61 di antaranya bisa ditularkan ke manusia. Walau lebih sedikit, namun jika dihitung rata-rata per spesies, kelelawar lebih banyak dihuni virus. Satu kelelawar rata-rata dihuni 1,79 virus yang bisa menyerang manusia, sedangkan pada tikus hanya 1,48 virus.

Penelitian yang dimuat jurnal Proceeding of Royal Society B ini juga menemukan kelelawar lebih banyak berbagi virus ketimbang tikus. Satu virus rata-rata menginfeksi 4,51 spesies kelelawar, sementara satu virus tikus menginfeksi rata-rata 2,76 spesies tikus. Penyebabnya karena kelelawar tinggal amat berdekatan dengan jutaan kelelawar lain. Selain itu, kelelawar memiliki masa hidup lebih lama ketimbang tikus, memiliki massa tubuh yang lebih besar, ukuran kotoran yang kecil dan lebih lama membawa virus berbahaya.

Yang lebih mengkhawatirkan, ada banyak virus dalam kotoran kelelawar yang sampai saat ini belum dapat diidentifikasi. "Meskipun manusia jarang melakukan kontak langsung dengan kelelawar, virus dari hewan ini dapat menginfeksi manusia lewat kontak dengan
hewan peliharaan yang terinfeksi, misalnya kuda, sapi dan kucing.

Kebanyakan wabah rabies pada manusia jika dirunut dapat berasal dari kelelawar, begitu pula penularan virus Nipah dan Hendra.

Norovirus di Kapal Pesiar

Royal Carribean, sebuah kapal pesiar, berlayar pada tanggal 25 Februari
lalu selama 11 hari. Beberapa saat setelah kapal buang sauh, kapten mengumumkan bahwa telah ada wabah norovirus di atas kapal.


Norovirus adalah penyakit yang sangat menular dengan gejala berupa mual, pusing dan diare.

Akibat insiden ini, terhitung sebanyak 105 tamu dan 3 anggota kru kapal tertular wabah norovirus. Seluruh penumpang kapal yang terkena
penyakit ini sudah diberi obat dan penyakitnya berangsur membaik. Akibat kasus ini, kapal pesiar tersebut segera melakukan bersih-bersih secara menyeluruh begitu berlabuh di Port Everglades sebagai pemberhentian terakhir. Kapal pesiar ini seharusnya akan segera memulai lagi 11 hari pelayarannya. Namun perjalanan tersebut ditunda karena manajemen sedang melakukan pembersihan. Pelabuhan yang
disinggahi kapal ini adalah Tortola, British Virgin Islands, Philipsburg, St Maarten, Fort de France, Martinique, St John, Antigua dan Basseterre di St Kitts.

Dalam pelayaran terakhir, kapal ini mengangkut 1.991 tamu dan 772 kru. Royal Caribbean sebenarnya memiliki standar kesehatan yang tinggi, namun penyebaran norovirus memang terhitung cepat. Diperkirakan setiap tahun ada sebanyak 300 juta orang di dunia yang terserang Norovirus.

Monday, February 25, 2013

Mengenal virus Flu Burung Jenis Baru, H5N1 clade 2.3.2

Sejauh ini telah ditemukan virus Flu Burung jenis baru, yaitu virus H5N1 clade 2.3.2. Jenis virus yang lama adalah H5N1 clade 2.3.1. Sudah banyak Negara yang melaporkan adanya virus H5N1 clade baru (2.3) pada unggas seperti Iran, Nepal, India, Bangladesh, Bhutan, China, Vietnam, Japan, Rusia, Indonesia serta beberapa negara lainnya. Di Indonesia sendiri selama ini clade pada unggas yang ditemukan adalah clade 2.1, dan pada bulan September 2012 baru ditemukan clade baru 2.3 di beberapa daerah yang sebagian besar menyerang unggas terutama jenis itik.

Penularan virus H5N1 clade baru 2.3 kepada manusia, pernah dilaporkan terjadi di Bangladesh yaitu 3 kasus dan China termasuk Hongkong sebanyak 5 kasus, sehingga total kasus FB pada manusia didunia dengan baru clade 2.3 berjumlah 8 kasus. Dari 8 kasus tersebut 3 kasus diantaranya meninggal. Angka ini jika dibandingkan dengan jumlah kasus FB secara keseluruhan diseluruh dunia sejak tahun 2003 hingga Desember 2012 , yang sebagian besar adalah clade 2.1 berjumlah 610 kasus dan 360 kematian, angka fatalitas sebesar 59,02 %. Untuk Indonesia, hingga saat ini belum ditemukan kasus FB pada manusia dengan clade baru 2.3.

Virus clade 2.3.2 bisa jadi merupakan mutasi dari 2.1 atau memang spesies yang berbeda, dimana ada dua kemungkinan munculnya virus clade baru 2.3 tersebut yaitu, kemungkinan pertama memang terjadi mutasi genetic drift atau mutasi genetic shift pada virus tersebut. Adapun kemungkinan kedua adalah adanya introduksi virus melalui masuknya unggas jenis itik dan atau produknya atau melalui migrasi unggas liar.

Banyak faktor yang ikut berperan untuk terjadinya penularan virus dari hewan ke manusia antara lain dari sisi virusnya dan dari sisi manusianya.
  • Dari sisi virusnya; Ada sebagian virus yang memang dimungkinkan dapat hidup pada jaringan/sel manusia dan jaringan/sel binatang, namun juga ada virus tertentu yang hanya dapat hidup pada jaringan/sel binatang sehingga tidak menular kepada manusia. 
  • Dari sisi manusianya; Seseorang untuk dapat terinfeksi/tertular suatu virus dari hewan dan menjadi sakit juga banyak faktor yang mempengaruhinya seperti daya tahan tubuh, lamanya kontaminasi dengan virus serta dosis/banyak nya virus yang mengkontaminasi. Disamping itu pola hidup seperti kebersihan perorangan dan sanitasi lingkungan juga akan ikut mempengaruhi terjadinya penularan virus.
Sejauh ini belum ada bukti ilmiah ada tidaknya hubungan antara cuaca atau musim dengan penularan virus H5N1 sesama hewan/unggas atau hewan ke manusia.

Sejauh ini Indonesia belum mempunyai pengalaman yang mendalami tentang media penularan dari itik ke manusia karena sejauh ini Indonesia belum mempunyai kasus Flu Burung pada manusia yang diakibatkan oleh clade baru 2.3. Akan tetapi secara umum dapat diperkirakan bahwa media penularanya adalah tidak jauh berbeda dengan media penularan pada clade 2.1.

Kalau untuk clade 2.3.1 pada ayam ditunjukkan diantaranya dengan jengger yang biru keunguan, keluar cairan dari mata, dan sebagainya. Dari informasi kesehatan hewan maka secara umum tanda-tanda Itik terkena virus H5N1 clade 2.3. adalah : Tortikolis (itik akan berputar-putar, kemudian akan jatuh), Kejang-kejang, Sulit berdiri, Warna selaput mata berubah menjadi putih, Mengakibatkan kematian yang tinggi dan Pada itik dewasa terjadi penurunan produksi telur.

Tanda-tanda manusia yang tertular clade 2.3, seperti yang ada di Cina adalah Demam tinggi, Batuk, Pilek, dan Sesak bernafas.

Jadi, penanggulangan KLB/ wabah untuk virus Flu burung clade baru sama dengan penanggulangan KLB/ wabah virus Flu burung clade lama. Begitupula dengan kewaspadaan dininya.

Infeksi Virus Korona

World Health Organization (WHO) telah menginformasikan bahwa di Inggris terjadi lagi satu kasus terinfeksi virus korona. Dari kasus tersebut, tidak ada riwayat bepergian ke Arab, namun merupakan kerabat dari pasien sebelumnya. Jadi, untuk kasus terakhir ini, ada dugaan awal kemungkinan penyebaran dari manusia ke manusia, walaupun belum ada penularan berkelanjutkan ke kerabat yang lain. 

Penanggulangan lapangan masih terus dilakukan secara intensif di Inggris, dan hasil akan terus dilaporkan melalui mekanisme International Health Regulation (IHR) ke semua negara, termasuk Indonesia. Virus Korona dikenal luas di tahun 2003 sebagai penyebab penyakit SARS yang cukup menghebohkan dengan angka kematian yang tinggi pula.

Jenis2 virus korona yang telah terdeteksi adalah HCoV-229E, HCoV-OC43, SARS-CoV, NL63/NL/New Haven coronavirus, HKU1-CoV, NCoV (Novel coronavirus 2012) dan HCoV-EMC.

Hingga tanggal 22 Februari 2013 ini, WHO melaporkan di dunia ada 13 kasus infeksi virus korona dengan tujuh pasien diantaranya meninggal dunia. Gejala penyakit, secara umum adalah demam tinggi, sesak nafas, batuk dan berujung pada gangguan paru dan saluran napas yang berat. 

Pengobatan dilakukan di rumah sakit sesuai kaidah penanganan pasien dengan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Sampai sekarang, belum ada "travel restriction" ke negara manapun dan juga belum tersedia vaksin untuk virus korona. 

Untuk kewaspadaan, semua Petugas Surveilans Kabupaten agar meningkatan surveilans Influenza Like Illness (ILI) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS), khususnya kalau ada cluster.

Epidemiologi Flu Burung (Avian Influenza / H5N1)


 
Flu burung adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh virus influenza yang ditularkan oleh unggas. Virus influenza terdiri dari beberapa tipe, antara lain tipe A, tipe B dan tipe C. Influenza tipe A terdiri dari beberapa subtipe, antara lain H1N1, H3N2, H5N1 dan lain-lain.

Batasan KLB Flu Burung adalah ditemukannya 1 (satu) Kasus Konfirmasi H5N1 pada pemeriksan Laboratorium dengan RT-PCR.

Gambaran Klinis
Kasus Flu Burung (H5N1) pada manusia diklasifikasikan dalam 4 jenis kasus sesuai perkembangan diagnosis, yaitu seseorang dalam penyelidikan, kasus suspek FB, kasus probable dan kasus konfirmasi.

1) Seseorang Dalam Penyelidikan
Seseorang / sekelompok orang yang telah diputuskan oleh pejabat kesehatan berwenang untuk diinvestigasi terkait kemungkinan infeksi H5N1.

2) Kasus Suspek FB
Seseorang yang menderita demam panas ≥ 38o C disertai dengan satu atau lebih gejala berikut : batuk, sakit tenggorokan, pilek, sesak nafas (nafas pendek)
ditambah dengan satu atau lebih keadaan di bawah ini :
  • pernah kontak dengan unggas sakit/mati mendadak yang belum diketahui penyebabnya serta produk mentahnya (telur, jeroan) termasuk kotoran dalam 7 hari terakhir sebelum timbul gejala di atas. Yang dimaksud dengan kontak adalah merawat, membersihkan kandang, mengolah, membunuh, mengubur/membuang/membawa
  • pernah tinggal di lokasi yang terdapat kematian unggas yang tidak biasa dalam 7 hari terakhir sebelum timbul gejala di atas. Luas lokasi ditentukan dengan mobilisasi unggas yang mati
  • pernah kontak dengan penderita AI konfirmasi dalam 7 hari terakhir sebelum timbul gejala di atas
  • pernah kontak dengan spesimen AI H5N1 dalam 7 hari terakhir sebelum timbul gejala di atas
  • ditemukan adanya lekopenia (< 5000/μl)
  • ditemukan adanya antibodi terhadap H5 dengan pemeriksaan Hemaglutinase Inhibition (HI) test menggunakan eritrosit kuda; 

atau
Seseorang yang menderita Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) dengan satu atau lebih keadaan di bawah ini :
  • Leukopenia (<5000) atau limfositopenia
  • Foto toraks menggambarkan pneumonia atipikal atau infiltrat baru di kedua sisi paru yang makin meluas pada serial foto.

3) Kasus probable FB H5N1
Adalah kasus yang memenuhi kriteria kasus suspek dengan satu atau lebih keadaan di bawah ini:
  • Ditemukan adanya kenaikan titer antibodi 4 kali terhadap H5 dengan pemeriksaan uji HI menggunakan eritrosit kuda atau uji ELISA
  • Hasil laboratorium terbatas untuk Influenza H5 ( terdeteksinya antibodi spesifik H5 dalam spesimen serum tunggal) menggunakan neutralisasi test; Atau
  • Seseorang yang meninggal karena penyakit saluran napas akut yang tidak bisa dijelaskan penyebabnya dan secara epidemiologis menurut waktu tempat dan pajanan berhubungan dengan kasus probabel atau konfirmasi.