Wednesday, November 30, 2011

Epidemiologi HIV AIDS



Acquired Immunodeficiency Syndrome (Infeksi HIV, AIDS)

Identifikasi
AIDS adalah sindroma penyakit yang pertama kali dikenal pada tahun 1981. Sindroma ini menggambarkan tahap klinis akhir dari infeksi HIV. Beberapa minggu hingga beberapa bulan sesudah terinfeksi, sebagian orang akan mengalami penyakit “self-limited mononucleosis-like” akut yang akan berlangsung selama 1 atau 2 minggu. Orang yang terinfeksi mungkin tidak menunjukkan tanda atau simptom selama beberapa bulan atau tahun sebelum manifestasi klinis lain muncul. Berat ringannya infeksi ”opportunistic” atau munculnya kanker setelah terinfeksi HIV, secara umum terkait langsung dengan derajat kerusakan sistem kekebalan yang diakibatkannya. Definisi AIDS yang dikembangkan oleh CDC Atlanta tahun 1982 memasukkan lebih dari selusin infeksi “opportunistics” dan beberapa jenis kanker sebagai indikator spesifik akibat dari menurunnya kekebalan tubuh.

Di tahun 1987, definisi ini diperbaharui dan diperluas dengan memasukkan penyakit - penyakit indikator tambahan dan menerima beberapa penyakit indikator tersebut sebagai satu diagnosa presumtif dari bila tes laboratorium menunjukkan bukti adanya infeksi HIV. Di tahun 1993, CDC merubah kembali definisi surveilans dari AIDS dengan memasukkan penyakit indikator tambahan. Sebagai tambahan, semua orang yang terinfeksi HIV dengan CD4 + (hitung sel) < 200/cu mm atau pasien dengan CD4 + dan prosentase T-lymphocyte dari total lymphocyte < 14%, tanpa memperhatikan status klinis dianggap sebagai kasus AIDS. Disamping kriteria rendahnya jumlah CD4, definisi CDC tahun 1993 secara umum sudah diterima untuk tujuan klinis di banyak negara maju, tetapi tetap terlalu kompleks bagi negara-negara berkembang. Negara-negara berkembang terkadang kekurangan fasilitas laboratorium yang memadai untuk pemeriksaan histologis atau diagnosis kultur bagi penyakit-penyakit indikator spesifik. WHO merubah definisi kasus AIDS yang dirumuskan di Afrika untuk digunakan dinegara berkembang pada tahun 1994 : yaitu dengan menggabungkan tes serologi HIV, jika tersedia, dan termasuk beberapa penyakit indikator sebagai pelengkap diagnostik bagi mereka yang seropositip. Manifestasi klinis dari HIV pada bayi dan balita tumpang tindih dengan imunodefisiensi turunan dan masalah kesehatan anak lainnya. CDC dan WHO telah mempublikasikan definisi kasus AIDS pada anak.

Proporsi orang yang terinfeksi HIV, tetapi tidak mendapat pengobatan anti-HIV dan akhirnya akan berkembang menjadi AIDS diperkirakan mencapai lebih dari 90 %. Karena tidak adanya pengobatan anti-HIV yang efektif, “case fatality rate” dari AIDS menjadi sangat tinggi, kebanyakan penderita di negara berkembang (80 - 90%) mati dalam 3 – 5 tahun sesudah didiagnosa terkena AIDS. Bagaimanapun, penggunaan obat-obatan profilaktik secara rutin untuk mencegah Pneumonia Pneumocystis carinii dan kemungkinan infeksi-infeksi lain di AS dan sebagain besar negara maju terbukti dapat menunda perkembangan AIDS dan mencegah kematian secara bermakna, mendahului tersedianya secara rutin obat anti-HIV yang efektif secara luas. Tes serologis antibodi untuk HIV tersedia secara komersial sejak tahun 1985. Tes yang biasa digunakan, (ELISA/EIA) sangat sensitif dan spesifik. Namum walaupun tes ini hasilnya efektif, diperlukan tes tambahan lagi seperti Western Blot atau tes “indirect fluorescent antibody” (IFA). Tes tambahan dengan hasil negatif meniadakan tes EIA positif pertama; sedangkan jika hasilnya positif mendukung tes EIA positif pertama, dan hasil tes Western Blot yang meragukan membutuhkan evaluasi lanjutan. WHO merekomendasikan sebagai alternatif penggunaan rutin Western Blot dan IFA, yaitu penggunaan tes lain yang secara metodologis dan atau secara antigen tidak tergantung pada tes awal EIA. Oleh karena hasil dari sebuah tes antibodi HIV yang positif sangat berarti bagi seseorang, maka direkomendasikan bahwa tes awal yang positif harus di konfirmasikan lagi dengan spesimen kedua dari pasien untuk mencegah kemungkinan terjadinya kesalahan pada pemberian label atau kesalahan penulisan hasil tes.

Pada umumnya, orang yang terinfeksi HIV akan membentuk antibodi yang terdeteksi dalam 1-3 bulan sesudah terinfeksi, kadang kala masa ini menjadi lebih panjang hingga 6 bulan, dan sangat jarang yang membentuk antibodi setelah 6 bulan. Tes lain untuk mendeteksi infeksi HIV selama periode sesudah terinfeksi namun belum terjadi serokonversi sudah tersedia, antara lain termasuk tes untuk sirkulasi antigen HIV (p24)
dan tes PCR untuk mendeteksi sequensi asam nukleik dari virus. Karena “window period” antara kemungkinan terdeteksinya virus yang paling cepat dan terjadinya serokonversi sangat pendek (< 2 minggu) maka diagnosa infeksi HIV dengan tes ini jarang dilakukan. Namun tes ini bermanfaat untuk mendiagnosa infeksi HIV pada bayi yang dilahirkan oleh wanita penderita AIDS, karena antibodi maternal anti-HIV yang diberikan secara pasif, kadang menyebabkan tes anti-HIV EIA pada bayi ini menunjukkan hasil “false-positive” bahkan hingga umur 15 bulan. Angka T-helper cell (CD4+) absolut atau persentasenya sering digunakan untuk mengevaluasi beratnya infeksi HIV dan membantu para klinisi untuk memutuskan, terapi apa yang akan dilakukan.

Penyebab penyakit
Virus Human Immunodefisiensi (HIV) adalah sejenis retrovirus. Ada 2 tipe : tipe 1 (HIV-1) dan tipe 2 (HIV-2). Virus-virus ini secara serologis dan geografis relatif berbeda tetapi mempunyai ciri epidemiologis yang sama. Patogenisitas dari HIV-2 lebih rendah dibanding HIV-1.

Tuesday, November 29, 2011

Mengenal Kwashiorkor

Istilah kwashiorkor berasal dari bahasa salah satu suku di Afrika yang berarti "kekurangan kasih sayang ibu". Kwashiorkor adalah salah satu bentuk malnutrisi protein berat yang disebabkan oleh intake protein yang inadekuat dengan intake karbohidrat yang normal atau tinggi. Dibedakan dengan Marasmus yang disebabkan oleh intake dengan kualitas yang normal namun kurang dalam jumlah.Jika marasmus umumnya terjadi pada bayi dibawah 12 bulan, kwashiorkor bisanya terjadi pada anak usia 1-3 tahun. Pertumbuhannya terhambat, jaringan otot lunak dan kendor. Namun jaringan lemak dibawah kulit masih ada dibanding bayi marasmus.  Beberapa tanda khusus dari kwashiorkor adalah:
  • Selalu ada oedema (bengkak), terutama pada kaki dan tungkai bawah. Sifatnya “pitting oedema”. Bayi tampak gemuk, muka membulat (moon face), karena oedema. Cairan oedema sekitar 5-20% dari jumlah berat badan yang diperhitungkan dari penurunan berat badan ketika tidak oedema lagi (pada masa penyembuhan).
  • Rambut berubah menjadi warna kemerahan atau abu-abu, menipis dan mudah rontok, apabila rambut keriting menjadi lurus.
  • Kulit tampak pucat dan biasanya disertai anemia.
  • Terjadi dispigmentasi dikarenakan habisnya cadangan energi atau protein. Pada kulit yang terdapat dispigmentasi akan tampak pucat. Sering terjadi dermatitis (radang pada kulit). Kulit mudah luka karena tidak adanya tryptophan dan nicotinamide, meskipun kekurangan zinc bisa juga menjadi penyebab dermatitis. Pada kasus kwashiorkor tingkat berat kulit akan mengeras seperti keripik terutama pada persendian utama. Bibir retak-retak, lidah pun menjadi lunak dan gampang luka.
  • Pada kwashiorkor, pengaruh terhadap sistem neurologi dijumpai adanya tremor seperti Parkinson yang berpengaruh terhadap jaringan (cabang) syaraf tunggal maupun syaraf kelompok pada otot. Seperti otot mata sering terjadi terus berkedip, atau pada pita suara yang menghasilkan suara getar serak/cengeng.
  • Perubahan mental juga terjadi misalnya bayi menjadi cengeng, apatis, hilangnya nafsu makan dan sukar diberi makan/disulang. Gejala anemia dan defisiensi mikronutrien juga sering dijumpai pada kasus ini.

Epidemiologi Penanggulangan Marasmus

 Berkas:Starved child.jpg

Marasmus merupakan keadaan dimana seorang anak mengalami defisiensi energi dan protein. Umumnya kondisi ini dialami masyarakat yang menderita kelaparan. Gizi buruk tipe marasmus adalah suatu keadaan dimana pemberian makanan tidak cukup atau higiene jelek disebabkan oleh defisiensi karbohidrat. Marasmus adalah salah satu bentuk kekurangan gizi yang buruk paling sering ditemui pada balita penyebabnya antara lain karena masukan makanan yang sangat kurang, infeksi, pembawaan lahir, prematuritas, penyakit pada masa neonatus serta kesehatan lingkungan.

Marasmus sering dijumpai pada anak berusia 0 - 2 tahun dengan gambaran sbb: kurangnya (bahkan tidak ada) jaringan lemak di bawah kulit,sehingga seperti bayi yang memakai pakaian yang terlalu besar ukurannya, berat badan kurang dari 60% berat badan sesuai dengan usianya, suhu tubuh bisa rendah karena lapisan penahan panas hilang, dinding perut hipotonus dan kulitnya melonggar hingga hanya tampak bagai tulang terbungkus kulit, tulang rusuk tampak lebih jelas atau tulang rusuk terlihat menonjol, anak menjadi berwajah lonjong dan tampak lebih tua (old man face), Otot-otot melemah, atropi, bentuk kulit berkeriput bersamaan dengan hilangnya lemak subkutan, perut cekung sering disertai diare kronik (terus menerus) atau susah buang air kecil. Selain itu terdapat pula beberapa tanda khusus bayi terkena marasmus, diantaranya:
  • Bayi akan merasa lapar dan cengeng.
  • Wajahnya tampak menua (old man/monkey face).
  • Atrofi jaringan, otot lemah terasa kendor/lembek ini dapat dilihat pada paha dan pantat bayi yang seharusnya kuat dan kenyal dan tebal.
  • Oedema (bengkak) tidak terjadi.
  • Warna rambut tidak berubah.
Pada marasmus tingkat berat, terjadi retardasi pertumbuhan, berat badan dibanding usianya sampai kurang 60% standar berat normal. Sedikitnya jaringan adipose pada marasmus berat tidak menghalangi homeostatis, oksidasi lemak tetap utuh namun menghabiskan cadangan lemak tubuh. Keberadaan persediaan lemak dalam tubuh adalah faktor yang menentukan apakah bayi marasmus dapat bertahan/survive (Cameron & Hofvander 1983:19-21).

Thursday, November 24, 2011

Surveilans AFP

Acute Flaccyd Paralysis (AFP) merupakan gejala awal dari penyakit Polio. Surveilans kasus lumpuh layuh akut (AFP) merupakan salah satu strategi dari eradikasi polio, yaitu melakukan pengamatan terus-menerus secara sistematis terhadap setiap kasus AFP. Tujuannya, untuk mendeteksi kemungkinan keberadaan virus polio liar di suatu wilayah, sehingga dapat dilakukan mopping up atau upaya khusus untuk memutus transmisi virus polio liar agar tidak menyebar ke wilayah yang lebih luas.

Konsep Surveilans AFP



Tujuan Surveilans AFP
1. Mengidentifikasi daerah berisiko transmisi virus-polio liar.
2. Memantau perkembangan program eradikasi polio.
3. Membuktikan Indonesia bebas polio.

Strategi Surveilans AFP
  • Menemukan kasus AFP minimal 2/100.000 penduduk < 15 tahun 
  • Upaya penemuan : di Rumah Sakit di Puskesmas dan Masyarakat 
  • Pemeriksaan Klinis dan Laboratorium 
  • Keterlibatan ahli 
  • Pemeriksaan Ulang 60 hari 
  • Zero Reporting 
Kegiatan Surveilans AFP 
  • Penemuan kasus 
  • Pelacakan Kasus 
  • Pengumpulan Spesimen 
  • Hot Case 
  • Survey Status Imunisasi Polio 
  • Nomor Epid 
  • Nomor Laboratorium Kasus AFP dan Kontak 
  • Kunjungan Ulang (KU) 60 Hari 
  • Umpan Balik dan Penyebarluasan Informasi

Monday, November 21, 2011

Perbedaan Hepatitis A, B, dan C

Hepatitis virus memang merupakan penyakit hati yang banyak ditemukan di dunia, lebih banyak di Indonesia dibandingkan dengan angka kejadian di Amerika atau Eropa. Sesuai dengan namanya, penyebabnya adalah virus yang menyerang hati. Ada lima jenis virus hepatitis yaitu virus hepatitis A (HAV), virus hepatitis B (HBV), virus hepatitis C (HCV), virus hepatitis D (HDV), dan virus hepatitis E (HEV). Yang banyak ditemukan di Indonesia adalah virus hepatitis A, virus hepatitis B, dan virus hepatitis C.

Virus hepatitis A berbeda dengan virus hepatitis B dan C. Cara penularan virus hepatitis A adalah melalui saluran cerna. Artinya penyebarannya dapat melalui makanan atau minuman/air yang terkontaminasi virus. Sementara cara penularan virus hepatitis B melalui transfusi darah dan hubungan seksual. Sedangkan virus hepatitis C terutama ditularkan melalui jarum suntik pengguna narkotika dan transfusi darah. Dari penelitian tidak terbukti adanya penularan dari ibu ke janin pada infeksi HAV, namun pada infeksi HBV dan HCV dapat terjadi.

Epidemiologi Hepatitis A

Identifikasi

Gejala hepatitis A pada orang dewasa di wilayah nonendemis biasanya ditandai dengan demam, malaise, anoreksia, nausea dan gangguan abdominal, diikuti dengan munculnya ikterus dalam beberapa hari. Gejala awalnya untuk mencegah KLB adalah sindrom Jaundice Akut. Di sebagain besar negara bekembang, infeksi virus hepatitis A terjadi pada masa kanak-kanak umumnya asimtomatis atau dengan gejala sakit ringan. Infeksi yang terjadi pada usia selanjutnya hanya dapat diketahui dengan pemeriksaan laboratorium terhadap fungsi hati. 

Penyakit ini mempunyai gejala klinis dengan spektrum yang bervariasi mulai dari ringan yang sembuh dalam 1-2 minggu sampai dengan penyakit dengan gejala yang berat yang berlangsung sampai beberapa bulan. Lebih jauh, perjalanan penyakit yang berkepanjangan dan kambuh kembali dapat terjadi dan penyakit berlangsung lebih dari 1 tahun ditemukan pada 15% kasus; tidak ada infeksi kronis pada hepatitis A. 

Konvalesens sering berlangsung lebih lama. Pada umumnya, penyakit semakin berat dengan bertambahnya umur, namun penyembuhan secara sempurna tanpa gejala sisa dapat terjadi. Kematian kasus dilaporkan terjadi berkisar antara 0.1% - 0.3%, meskipun kematian meningkat menjadi 1.8% pada orang dewasa dengan usia lebih dari 50 tahun; seseorang dengan penyakit hati kronis apabila terserang hepatitis A akan meningkat risikonya untuk menjadi hepatitis A fulminan yang fatal. 

Pada umumnya, hepatitis A dianggap sebagai penyakit dengan case fatality rate yang relatif rendah. Diagnosis ditegakkan dengan ditemukannya antibodi IgM terhadap virus hepatitis A (IgM anti-HAV) pada serum sebagai pertanda yang bersangkutan menderita penyakit akut atau penderita ini baru saja sembuh. IgM anti-HAV terdeteksi dalam waktu 5-10 hari setelah terpajan. Diagnosa juga dapat ditegakkan dengan meningkatnya titer antibodi spesifik 4 kali atau lebih dalam pasangan serum, antibodi dapat dideteksi dengan RIA atau ELISA. (Kit untuk pemeriksaan IgM dan antibodi total dari virus tersedia luas secara komersial). Apabila pemeriksaan laboratorium tidak memungkinkan untuk dilakukan, maka bukti-bukti epidemiologis sudah dapat mendukung diagnosis.

Penyebab Penyakit

Penyebab penyakit adalah virus hepatitis A HAV), picornavirus berukuran 27-nm (yaitu virus dengan positive strain RNA). Virus tersebut dikelompokan kedalam Hepatovirus, anggota famili Picornaviridae.

Distribusi Penyakit

Secara epidemiologis, Hepatitis A tersebar di seluruh dunia, muncul sporadis dan sebagai wabah, dahulu dengan kecenderungan muncul secara siklis. Di negara sedang berkembang, orang dewasa biasanya sudah kebal dan wabah hepatitis A (HA) jarang terjadi. Namun adanya perbaikan sanitasi lingkungan di sebagian besar negara di dunia ternyata membuat penduduk golongan dewasa muda menjadi lebih rentan sehingga frekuensi terjadi KLB cenderung meningkat. Di negara-negara maju, penularan penyakit sering terjadi karena kontak dalam lingkungan keluarga dan kontak seksual dengan penderita akut, dan juga muncul secara sporadis di tempat-tempat penitipan anak usia sebaya, menyerang wisatawan yang bepergian ke negara dimana penyakit tersebut endemis, menyerang pengguna suntikan pecandu obat terlarang dan pria homoseksual. 

Didaerah dengan sanitasi lingkungan yang rendah, infeksi umumnya terjadi pada usia sangat muda. Di Amerika Serikat, 33% dari masyarakat umum terbukti secara serologis sudah pernah terinfeksi HAV. Di negara maju wabah sering berjalan dengan sangat lambat, biasanya meliputi wilayah geografis yang luas dan berlangsung dalam beberapa bulan; wabah dengan pola ”Common source” dapat meluas dengan cepat. Selama terjadi KLB, petugas dan para pengunjung tempat penitipan anak, pria dengan banyak pasangan seksual dan para pecandu Napza yang menggunakan suntikan mempunyai risiko lebih tinggi tertulari daripada penduduk pada umumnya. Namun, hampir separuh dari kasus, dan sumber infeksi tidak diketahui. Penyakit ini sangat umum menyerang anak-anak sekolah dan dewasa muda. 

Pada tahun-tahun belakangan ini, KLB yang sangat luas penularannya umumnya terjadi di masyarakat, namum KLB karena pola penularan ”Common source” berkaitan dengan makanan yang terkontaminasi oleh penjamah makanan dan produk makanan yang terkontaminasi tetap saja terjadi. KLB pernah dilaporkan terjadi diantara orang-orang yang bekerja dengan primata yang hidup liar.

Metode Survei Cepat (Rapid Survey Method)

Metode Survei Cepat (Rapid Survey Method) saat ini memainkan peran yang sangat besar pada Ilmu Kesehatan Masyarakat, khususnya Epidemiologi.

Penelitian survei merupakan upaya pengumpulan informasi dari sebagian populasi yang dianggap dapat mewakili populasi tertentu. Metode ini bertitik tolak pada konsep, hipotesis, dan teori yang sudah mapan sehingga tidak akan memunculkan teori yang baru. Penelitian survei memiliki sifat verifikasi atau pengecekan terhadap teori yang sudah ada (Mantra, 2001). Dalam perjalanannya, survei biasa digunakan untuk mengevaluasi berbagai program kesehatan (Depkes, 1998) maupun menginvestigasi berbagai status kesehatan dan penyakit yang aktual di masyarakat (Frerichs & Shaheen, 2001).

Penelitian survei merupakan perangkat penelitian yang murah dan cepat sehingga informasi yang dibutuhkan dapat dihasilkan secara akurat dan tepat waktu. Bentuk kuesionernya pun sederhana dan relatif mudah sehingga tidak memerlukan pelatihan secara khusus (Stone, 1993). Selain murah dan cepat, keunggulan lainnya adalah penelitian survei dapat digunakan untuk mengumpulkan informasi secara sistematis mengenai berbagai hal, misalnya: insidensi penyakit, identifikasi faktor-faktor etiologi penyakit, investigasi kualitas hidup manusia dan perilaku masyarakat (Eaden, Mayberry & Mayberry, 1999). Agar dapat memberikan data yang lebih akurat, pengembangan kuesioner perlu memperhatikan faktor validitas dan reliabilitas (Andrews, 1984; Agreus et al., 1993). World Health Organization (WHO) telah mengembangkan satu teknik survei yang cepat dan murah untuk mengevaluasi keberhasilan program imunisasi dan program kesehatan lainnya. Teknik survei ini dikenal sebagai metode survei cepat (Rapid Survey Method). 

Wednesday, November 16, 2011

Tokoh-tokoh Epidemiologi

 Beberapa Tokoh Penting Ilmu Epidemiologi antara lain:

1. John Graunt, 1662
Menganalisa laporan mingguan kelahiran dan kematian di London, dalam bukunya “The Nature and Political Observations Made Upon the Bills of Mortality”. Inilah untuk pertama kalinya pola penyakit penduduk diukur. Ia mencatat besarnya perbedaan kelahiran dan kematian antara laki-laki dan perempuan, besarnya kematian bayi menurut musim, menekankan pentingnya pengumpulan data penyakit secara rutin, yang menjadi dasar bentuk epidemiologi modern. Ia juga sebagai pencipta dua prosedur dasar biostatistik, yaitu estimasi populasi dan konstruksi tabel kehidupan. John Graunt merupakan orang yang pertama melakukan kuantifikasi atas kejadian kematian dan kesakitan.

2. Antonio van Leeuwenhoek (1632-1723)
Leeuwenhoek adalah seorang warga negara Belanda, dilahirkan di Delft, 24 Oktober 1632 dan meninggal pada tanggal 24 Agustus 1723. Dia seorang ilmuwan amatir yang menemukan mikroskop, penemu bakteri dan parasit (1674), penemu spermatozoa (1677). Penemuan bakteri telah membuka tabir suatu penyakit yang akan sangat berguna untuk analisis epidemiologi selanjutnya.

3. Robert Koch
Nama Robert Koch tidak asing lagi jika dihubungkan dengan penyakit tuberkulosis pada tahun 1882. Selain itu Koch berperan memperkenalkan tuberkulin pada tahun 1890 yang dianggapnya sebagai suatu cara pengobatan TBC. Konsep tes tuberkulin selanjutnya dikembangkan oleh Von Pirquet di tahun 1906 dan PPD diperkenalkan oleh siebart pada tahun 1931. Dewasa ini tes tuberkulin dipakai untuk mendeteksi adanya riwayat infeksi tuberkulosis sebagai perangkat diagnosis TBC pada anak-anak. Selain itu Koch juga terkenal dengan Postulat Koch, yang mengemukakan konsep tentang cara menentukan kapan mikroorganisme dapat dianggap sebagai penyebab suatu penyakit.

4. Max van Patternkofer
Orang Jerman ini memberikan kesan tersendiri dalam sejarah epidemiologi khususnya berkaitan dengan upaya mengidentifikasikan penyebab suatu penyakit. Untuk membuktikan jalan pikirannya dia tidak segan-segan memakai dirinya sebagai kelinci percobaan. Dan konon beberapa muridnya bersedia juga menuruti caranya. Dia menelan1,00 cm3 kultur vibrio untuk menentang teori yang sedang berkembang saat itu yang menyatakan vibrio adalah penyebab kolera. Dia ingin membuktikan bahwa vibrio bukanlah penyebab kolera. Dia minum segelas air berisi baksil kolera, dan ternyata memang (kebetulan) dia tidak jatuh sakit. Salah satu kemungkinannya karena dosis yang diminumnya terlalu kecil mengingat dibutuhkan jumlah vibrio yang banyak untuk selamat dari keasaman lambung.

5. William Fair, 1839
Mengembangkan pengumpulan data rutin kematian dan penyebabnya. Merupakan orang pertama menganalisis statistik kematian untuk mengevaluasi masalah kesehatan

6. John Snow, 1854
Namanya sudah tidak asing dalam dunia kesmas dalam upaya yang sukses mengatasi kolera yang melanda London. Yang perlu dicatat disini bahwa John Snow, dalam analisis masalah penyakit kolera, mempergunakan pendekatan epidemiologi dengan menganalisis faktor tempat, orang, dan waktu. Dia dianggap The Father of Epidemiology.

7. Pervical Pott
Dia adalah seorang ahli bedah yang melakukan pendekatan epidemiologis dalam menganalisis meningginya kejadian kanker skrotum di kalangan pekerja pembersih cerobong asap. Dia memikirkan bahwa tentu ada suatu faktor tertentu yang berkaitan dengan kejadian kanker skrotum di kalangan pembersih cerobong asap. Dengan analisis epidemiologinya, dia berhasil menemukan bahwa tar yang terdapat pada cerobong asap itulah yang menjadi penyebabnya. Dia dianggap sebagai Bapak Epidemiologi Modern.

8. James Lind, 1747
Dia berhubungan dengan sejarah hubungan kekurangan vitamin C dengan scurvy (kekurangan vitamin C). cerita penemuannya sederhana, dimana dia mengamati bahwa ada kelompok tertentu dari mereka yang dalam pelayanan dengan kapal yang mereka tumpangi dalam suatu pelayaran panjang yang mengalami scurvy. Mereka menderita kekurangan vitamin C karena mereka semuanya memakan makanan kaleng. Dia dikenal sebagai bapak Trial Klinik.

9. Dool dan Hill, 1950
R. Doll dan A.B. Hill adalah dua nama yang berkaitan dengan cerita hubungan merokok dan kanker paru. Keduanya adalah peneliti pertama yang mendesain penelitian yang melahirkan bukti adanya hubungan antara rokok dan kanker paru. Keduanya adalah pelopor penelitian di bidang Epidemiologi Klinik.

Latar Belakang Perkembangan Epidemiologi

Epidemiologi sebagai suatu ilmu berkembang dari waktu ke waktu. Perkembangan itu dilaterbelakangi oleh beberapa hal :

  1. Tantangan zaman dimana terjadi perubahan masalah dan perubahan pola penyakit. Sewaktu zaman John Snow, epidemiologi mengarahkan dirinya untuk masalah penyakit infeksi dan wabah. Dewasa ini telah terjadi perubahan pola penyakit ke arah penyakit tidak menular, dan epidemiologi tidak hanya dihadapkan dengan masalah penyakit semata tetapi hal-hal baik yang berkaitan langsung ataupun tidak langsung dengan penyakit, serta masalah kesehatan secara umum.
  2. Perkembangan ilmu pengetahuan lainnya. Pengetahuan kedokteran klinik berkembang begitu pesat disamping perkembangan ilmu-ilmu lainnya seperti biostatistik, administrasi dan ilmu perilaku. Perkembangan ilmu-ilmu ini juga membuat ilmu epidemiologi semakin berkembang.
Dengan demikian, terjadilah perubahan dan perkembangan dasar berpikir para ahli kesehatan masyarakat, khususnya epidemiologi dari masa ke masa sesuai dengan kondisi zaman dimana mereka berada.

Manfaat Epidemiologi

Manfaat Epidemiologi antara lain:

  1. Membantu pekerjaan Administrasi Kesehatan
  2. Dapat menerangkan penyebab masalah kesehatan
  3. Dapat menerangkan perkembangan alamiah penyakit
  4. Dapat menerangkan keadaan suatu masalah kesehatan
  • Epidemi (singkat dan tinggi)
  • Pandemi ( peningkatan yang sangat tinggi dan telah amat luas)
  • Endemi ( frekuansi tetap dalam waktu yang lama)
  • Sporadik (berubah-ubah menurut perubahan waktu)

Tujuan Epidemiologi

Tujuan Epidemiologi antara lain :
  1. Menggambarkan status kesehatan populasi
  2. Menentukan “sebab” masalah kesehatan
  3. Menentukan riwayat alamiah suatu penyakit
  4. Mengevaluasi suatu tindakan intervensi kesehatan
  5. Meramalkan terjadinya masalah kesehatan di populasi
  6. Menggambarkan upaya tindakan pencegahan dan pengobatan yang dilakukan
  7. Penelitian sejarah
  8. Diagnosis komunitas
  9. Kinerja pelayanan kesehatan
  10. Risiko individu dan peluang
  11. Melengkapi gambaran klinik dan pola penyebaran penyakit
  12. Identifikasi sindrom
  13. Mencari penyebab
  14. Mengevaluasi gejala dan tanda-tanda
  15. Analisa keputusan klinis

Sejarah Perkembangan Epidemiologi

Sesuai dengan sejarah kelahirannya, epidemiologi memberikan perhatian terhadap penyakit yang menimpa penduduk. Penyakit yang banyak menimpa penduduk pada saat itu hingga akhir abad 19 adalah penyakit wabah atau epidemi (penyakit yang mengenai penduduk secara luas). Epidemiologi memberikan perhatian tentang epidemi yang banyak menelan korban kematian.

Pada awal perkembangannya, epidemiologi mempunyai pengertian sempit. Epidemiologi dianggap sebagai ilmu tentang epidemi. Pada perkembangan selanjutnya hingga dewasa ini Epidemiologi dapat diartikan sebagai ilmu tentang distribusi (penyebaran) dan determinan (faktor-faktor penentu) masalah kesehatan masyarakat yang bertujuan untuk pembuatan perencanaan dan pengambilan keputusan dalam menanggulangi masalah kesehatan. Dengan demikian, epidemiolgi tidak hanya mempelajari penyakit epidemi saja, tetapi menyangkut masalah kesehatan secara keseluruhan.

Sebagai ilmu yang berkembang, epidemiologi mengalami perkembangan pengertian dan karena itu pula mengalami modifikasi dalam batasan atau definisi. Berbagai definisi telah dikemukakan oleh para penulis dan mereka para para pakar yang mencurahkan waktunya dalam epidemiologi. Sejarah Epidemiologi dapat diikuti dari teori yang berkembang dan kejadian penting oleh beberapa ahli Epidemiologi antara lain:

Wade Hampton Frost (1972), Guru Besar Epidemiologi di School of Hygiene, Universitas John Hopkins mendifinisikan epidemiologi sebagai suatu pengetahuan tentang fenomena massal (mass phenomen) penyakit infeksi atau sebagai riwayat alamiah (natural history) penyakit menular. Disini tampak bahwa pada waktu itu penekanan perhatian epidemiologi hanya ditujukan kepada masalah penyakit infeksi yang mengenai massa (masyarakat).

Greenwood (1934), Profesor di School of Hygiene and Tropical Medicine, London, mengemukakan batasan epidemiologi yang lebih luas dimana dikatakan bahwa epidemiologi mempelajari tentang penyakit dan segala macam kejadian yang mengenai kelompok penduduk. Kelebihan pengertian ini adalah dengan adanya penekanan pada kelompok penduduk yang memberikan arahan distribusi dan metodologi terkait.

Brian Mac Mahon (1970), pakar epidemiologi di Amerika Serikat yang bersama dengan Thomas F. Pugh menulis buku “Epidemiology: Pricipals and Methods” menyatakan bahwa “Epidemiology is the study of the distribution and determinants of disease frequency in man”. Epidemiologi adalah studi tentang penyebaran dan penyebab frekuensi penyakit pada manusia dan mengapa terjadi distribusi semacam itu. Walaupun defenisinya cukup sederhana, disini tampak bahwa MacMahon menekankan epidemiologi sebagai suatu pendekatan metodologi dalam menentukan distribusi penyakit dan mencari penyebab mengapa terjadi distribusi yang demikian dari suatu penyakit.

Gary D. Friedman (1974) dalam bukunya “Primer of Epidemiology” menuliskan bahwa ”Epidemiology is the study of disease occurance in human populations”. Batasan ini lebih sederhana dan tampak sepadan dengan apa yang dikemukakan oleh Mac-Mahon. Dan ini pula yang kurang lebih dikemukakan oleh Anders Ahlbom dan Staffan Norel (1989) dalam bukunya Introduction of Modern Epidemiology. Dikatakan bahwa Epidemiologi adalah ilmu pengetahuan mengenai terjadinya penyakit pada populasi manusia. Hanya saja perlu ditambahkan bahwa dalam kata pengantarnya, dia mengatakan antara lain : “Suatu lelucon lama mengatakan bahwa seorang ahli epidemiologi telah berubah: tidak lagi sebagai wilayah dari sejumlah kecil dokter yang berdedikasi, tapi telah berkembang menjadi suatu disiplin riset yang nyata”. Ungkapan ini mengingatkan akan latar belakang sejarah Epidemiologi yang semula mendapat perhatian dan dikembangkan oleh para dokter dalam menggeluti masalah penyakit, yang kemudian berkembang sebagai suatu pendekatan metodologi.

Sejarah Perkembangan Epidemiologi

Defenisi atau Pengertian Epidemiologi

Epidemiologi merupakan salah satu bagian dari pengetahuan Ilmu Kesehatan Masyarakat (Public Health) yang menekankan perhatiannya terhadap keberadaan penyakit dan masalah kesehatan lainnya dalam masyarakat. Keberadaan penyakit masyarakat itu didekati oleh epidemiologi secara kuantitatif. Karena itu, epidemiologi akan mewujudkan dirinya sebagai suatu metode pendekatan banyak memberikan perlakuan kuantitatif dalam menjelaskan masalah kesehatan.

Epidemiologi berasal dari kata Epi, demos, dan Logos. Epi = atas, demos = masyarakat, logos = ilmu, sehingga epidemiologi dapat diartikan ilmu yang mempelajari tentang masyarakat.

Epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang distribusi, frekuensi, dan determinan penyakit pada populasi.
  • Distribusi : Orang, tempat, waktu
  • Frekuensi, ukuran frekuensi : Insiden dan atau prevalen
  • Determinan faktor risiko : faktor yang mempengaruhi atau faktor yang memberi risiko atas terjadinya penyakit atau masalah kesehatan

Epidemiologi mengukur suatu kejadian dan distribusi kejadian tersebut menurut variabel orang, tempat, dan waktu, dan berupaya menentukan faktor yang menyebabkan terjadinya kejadian itu di kelompok populasi. Ilmu ini dikembangkan dari pengalaman mempelajari beberapa wabah penyakit pada waktu-waktu tertentu dengan angka kematian yang tinggi.

Defenisi atau Pengertian Epidemiologi

Monday, November 14, 2011

Hasil Pertemuan Epidemiologi : TEPHINET ke-6 Bali Indonesia 2011


Pertemuan Konferensi Ilmiah Biregional TEPHINET ke-6, di Bali telah selesai. Sedikitnya 550 peserta hadir pada pertemuan ini, yaitu 350 peserta lokal dan 200 peserta internasional. Peserta berasal dari Indonesia, Afghanistan, Amerika Serikat, Australia, Bangladesh, Bhutan, Canada, China, Filipina, Haiti, Hongkong, India, Inggris, Jepang, Kamboja, Korea Selatan, Lao PDR, Malaysia, Mongolia, Myanmar, Nepal, Singapura, Spanyol, Sri Lanka, Syria, Taiwan, Thailand, Timor Leste, Uganda, dan Vietnam. Pada acara ini dipaparkan 120 presentasi oral dan 60 presentasi poster.

Konferensi TEPHINET tahun ini mengangkat tema Global Surveillance Networking for Global Health, berlangsung pada tanggal 8-11 November 2011. Organisasi internasional yang turut membantu konferensi ini adalah WHO, European Union, TEPHINET, SAFETYNET, UNICEF, US CDC, RESPOND, CAREID, REDI, Tuft University, dan lainnya.

Sunday, November 13, 2011

Mengenal Surveilans Sindromik

Sudah pernah dengar atau tahu tentang surveilans sindromik? Sudahkah anda mengenal Surveilans Sindromik?

Surveilans sindromik bukan merupakan surveilans penyakit menular berdasarkan diagnosa dokter, melainkan memonitor gejala penyakit (demam, diare, muntah, dsb.). Surveilans sindromik mendeteksi dini kondisi pada penderita gejala penyakit. Surveilans sindromik berguna untuk pengobatan sehari-hari dan terutama penting bagi penyakit menular yang belum dikenal atau langka.

Apa itu Surveilans Sindromik?
Surveilans sindromik Merupakan awal dari “Penanganan dini”, dengan kata lain Surveilans sindromik adalah awal dari Sistem Deteksi Dini Penyakit Menular.
Dalam sistem surveilans perlu dikembangkan “Analisis statistik sistem deteksi wabah penyakit menular” dan perangkat untuk “Sistem pengumpulan informasi”.

Deteksi dini penyakit perlu
  • Untuk menghambat meluasnya gangguan kesehatan
  • Menghambat kasus penyakit yang parah dan kasus kematian.
  • Mencegah lumpuhnya institusi medis (sumber daya medis) dengan menghambat terjadinya puncak wabah.
Urgensi deteksi dini penyakit menular dan krisis kesehatan adalah sebagai Manajemen krisis

Monday, November 7, 2011

Respons Kesehatan Masyarakat dalam IHR 2005

Pasal 13 Respons Kesehatan Masyarakat

1. Setiap Negara Peserta harus mengembangkan, memperkuat, dan memelihara, sesegera mungkin tetapi tidak lebih dari lima tahun dari mulai berlakunya Peraturan ini bagi Negara Peserta, kapasitas untuk merespon secara cepat dan efektif terhadap risiko kesehatan masyarakat dan PHEIC seperti dinyatakan pada Lampiran 1. WHO harus menerbitkan, setelah berkonsultasi dengan Negara Anggota, pedoman untuk mendukung Negara Peserta dalam mengembangkan kapasitas respons kesehatan masyarakat.

2. Sebagai kelanjutan penilaian yang mengacu pada ayat 2, Bagian A dari Lampiran 1, Negara Peserta dapat melaporkan kepada WHO berdasarkan kebutuhan yang rasional disertai dengan rencana pelaksanaan, untuk memperoleh perpanjangan sampai dua tahun untuk memenuhi kewajiban pada ayat 1 Pasal ini. Dalam keadaan tertentu dan didukung oleh rencana pelaksanaan Peraturan yang baru, Negara Peserta dapat meminta perpanjangan berikutnya, yang tidak melebihi dua tahun dari Direktur Jenderal WHO, yang membuat keputusan dan dengan mempertimbangkan anjuran teknis dari Komite Penelaah. Setelah jangka waktu yang disebutkan di dalam ayat 1 Pasal ini, Negara Peserta yang memperoleh perpanjangan, harus melapor setiap tahunnya kepada WHO tentang kemajuan pelaksanaannya secara menyeluruh.

3. Atas permintaan Negara Peserta, WHO harus bekerja sama dalam merespon risiko kesehatan masyarakat dan kejadian lain dengan menyediakan bimbingan dan bantuan teknis dan dengan menilai keefektifan tindakan pengendalian yang sudah dilaksanakan, bila perlu, termasuk memobilisasi tim ahli internasional untuk memberikan bantuan di tempat.

4. Bila WHO, setelah berkonsultasi dengan Negara Peserta yang bersangkutan sesuai dengan Pasal12, menetapkan bahwa PHEIC sedang terjadi, WHO dapat menawarkan, selain dukungan yang tercantum dalam ayat 3 Pasal ini, bantuan lebih lanjut kepada Negara Peserta, termasuk penilaian terhadap besarnya risiko internasional dan kecukupan tindakan pengendalian. Kerja sama tersebut dapat mencakupi tawaran untuk memobilisasi bantuan internasional dalam rangka mendukung national authorities dalam melaksanakan dan mengoordinasikan penilaian di tempat. Bila diminta oleh Negara Peserta, WHO harus menyediakan informasi yang mendukung tawaran seperti itu.

5. Bila diminta oleh WHO, sejauh memungkinkan Negara Peserta harus menyediakan dukungan bagi kegiatan respon yang dikoordinasi WHO.

6. Bila diminta, WHO harus menyediakan pedoman dan bantuan yang sesuai kepada Negara Peserta lainnya yang terjangkit atau terancam oleh PHEIC.

Persyaratan Kapasitas Inti Bagi Surveilans dan Respons (Lampiran IHR 2005)

PERSYARATAN KAPASITAS INTI BAGI SURVEILANS DAN RESPONS

1. Negara Peserta harus menggunakan struktur nasional dan sumberdaya yang ada untuk memenuhi persyaratan kapasitas intinya sesuai dengan Peraturan ini, termasuk yang terkait dengan:
(a) kegiatan surveilans, pelaporan, pemberitahuan, verifikasi, respons dan kerjasama; dan
(b) semua aktivitas yang berhubungan dengan penetapan bandara, pelabuhan laut dan perlintasan darat.

2. Setiap Negara Peserta harus menilai, dalam jangka waktu dua tahun sejak berlakunya Peraturan ini bagi Negara Peserta tersebut, kemampuan struktur nasional dan sumberdaya yang ada untuk memenuhi persyaratan minimal yang dijelaskan pada Lampiran- ini. Sebagai hasil dari penilaian tersebut, Negara Peserta harus mengembangkan dan melaksanakan rencana aksi untuk memastikan bahwa kapasitas inti telah ada dan berfungsi diseluruh wilayah mereka, sesuai ayat 1 Pasal 5 dan ayat Pasal 13.

3. Negara Peserta dan WHO harus mendukung penilaian, rencana dan pelaksanaan kegiatan berdasarkan Lampiran ini.

4. Pada tingkat masyarakat lokal dan/atau tingkat respons kesehatan masyarakat dasar/Puskesmas.
Kapasitasnya:
(a) mendeteksi kejadian yang meliputi tingkat penyakit atau kematian diatas yang biasanya dalam waktu dan tempat tertentu di seluruh area didalam wilayah Negara Peserta tersebut, dan
(b) melaporkan semua informasi penting yang ada dengan cepat ke tingkat respons layanan kesehatan yang tepat. Di tingkat masyarakat, laporan harus kepada institusi layanan kesehatan masyarakat local, atau petugas kesehatan setempat. Dari tingkat respons kesehatan masyarakat dasar/Puskesmas, laporan harus ditujukan kepada dinas kesehatan kabupaten/ Propinsi atau Pusat tergantung pada struktur organisasinya. Dalam Lampiran ini, informasi penting yang dimaksud sebagai berikut: gambaran klinis, hasil laboratorium, sumber dan jenis risiko, jumlah kasus dan kematian pada manusia, kondisi yang mempengaruhi penyebaran penyakit dan tindakan penyehatan yang dilakukan; dan
(c) melaksanakan tindakan pengendalian awal dengan segera.

5. Pada tingkat respons kesehatan masyarakat Kabupaten/Propinsi.

Kapasitasnya:
(a) Mengkonfirmasikan status kejadian yang dilaporkan dan untuk mendukung atau melaksanakan tindakan pengendalian tambahan; dan
(b) menilai kejadian yang dilaporkan dengan segera dan bila ditemukan hal-hal yang mendesak, melaporkan seluruh informasi yang penting ke tingkat nasional. Dalam Lampiran ini, kriteria kejadian yang penting, termasuk dampak kesehatan masyarakat yang serius dan/atau kejadian luar biasa atau yang tidak terduga dengan potensi penyebaran yang tinggi.


6. Pada tingkatan nasional
Penilaian dan pemberitahuan. Kapasitasnya:
(a) Menilai seluruh laporan mengenai kejadian yang penting selama 48 jam; dan
(b) Memberitahukan kepada WHO dengan segera melalui IHR Focal-Point Nasional ketika penilaian tersebut mengindikasikan adanya peristiwa yang sesuai dengan ayat 1 Pasal 6 dan Lampiran 2 dan memberitahukan kepada WHO sesuai dengan Pasal 7 dan ayat 2 Pasal 9.

Respon Kesehatan Masyarakat. Kapasitasnya:

(a) menentukan dengan cepat tindakan pengendalian yang diperlukan untuk mencegah penyebaran secara nasional. dan internasional;
(b) menyediakan dukungan melalui staf khusus, analisa sampel laboratorium (secara lokal atau melalui collaborating centers) dan bantuan logistik (misalnya peralatan, bahan dan pengiriman);
(c) menyediakan bantuan setempat yang diperlukan untuk melengkapi penyelidikan lokal;
(d) menyediakan hubungan operasional langsung dengan petugas kesehatan senior dan petugas lainnya untuk mengambil keputusan yang cepat dan pelaksanaan tindakan pembatasan dan pengendalian
(e) menyediakan hubungan langsung dengan para menteri pemerintahan;
(f) menyediakan, dengan alat komunikasi yang paling efisien yang tersedia, untuk hubungan dengan rumah sakit, klinik, bandara, pelabuhan, perlintasan darat, laboratorium dan area operasi penting lainnya untuk penyebaran informasi dan rekomendasi yang diterima dari WHO sehubungan dengankejadian dalam wilayah Negara Peserta tersebut dan dalam wilayah Negara Peserta lainnya;
(g) mendirikan, mengoperasikan dan menjaga suatu rencana tanggap darurat kesehatan, termasuk pembentukan tim multidisiplin/multisektoral untuk merespons kejadian yang merupakan PHEIC; dan

(h) menyediakan fasilitas awal berbasis 24 jam.

Informasi dan Respons Kesehatan Masyarakat dalam IHR 2005

INFORMASI DAN RESPONS KESEHATAN MASYARAKAT IHR 2005

Pasal 5 Surveilans

1. Setiap Negara Peserta harus mengembangkan, memperkuat, dan memelihara kemampuan untuk mendeteksi, menilai, memberitahukan dan melaporkan kejadian sesuai dengan Peraturan ini, sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran 1, secepat mungkin tetapi tidak lebih dari lima tahun sejak berlakunya Peraturan ini bagi Negara Peserta yang bersangkutan

2. Menindaklanjuti penilaian yang mengacu pada paragraf 2, Bagian A dari Lampiran 1, Negara Peserta dapat melaporkan kepada WHO berdasarkan kebutuhan yang sesungguhnya dan adanya suatu rencana pelaksanaan, sehingga memperoleh perpanjangan waktu dua tahun untuk memenuhi kewajibannya menurut paragraf 1 Pasal ini. Dalam keadaan yang luar biasa dan didukung oleh suatu rencana pelaksanaan baru, Negara Peserta dapat meminta lagi perpanjangan waktu paling lama dua tahun dari Direktur Jenderal WHO, yang akan memutuskan dengan mempertimbangkan saran teknis dari komite yang dibentuk menurut Pasal 50 (selanjutnya disebut “Komite Penelaah”). Setelah jangka waktu yang disebutkan pada paragraf 1 Pasal ini, Negara Peserta yang telah memperoleh perpanjangan waktu harus melaporkan setiap tahun kepada WHO kemajuan yang dicapai dalam rangka menuju pelaksanaan Peraturan ini secara menyeluruh.

3. Atas permintaan Negara Peserta, WHO harus membantu mengembangkan, memperkuat dan memelihara kemampuan yang tersebut dalam ayat 1 Pasal ini.

4. WHO harus mengumpulkan informasi mengenai berbagai kejadian melalui kegiatan surveilansnya dan menilai potensi kejadian tersebut untuk menimbulkan penyebaran penyakit dan kemungkinan terganggunya lalu lintas internasional. Bila perlu informasi yang diterima oleh WHO berdasarkan ayat ini, harus ditangani menurut Pasal 11 dan 45.

Pasal 6 Pelaporan

1. Setiap Negara Peserta harus menilai kejadian di dalam wilayahnya dengan menggunakan bagan keputusan pada Lampiran 2. Dalam waktu 24 jam setelah dilakukan penilaian informasi kesehatan masyarakat, setiap Negara Peserta harus memberitahu WHO, dengan menggunakan alat komunikasi paling efisien yang tersedia, melalui IHR Focal-Point Nasional, semua kejadian yang mungkin merupakan PHEIC di dalam wilayahnya sesuai dengan bagan keputusan, demikian juga setiap tindakan penyehatan yang telah dilaksanakan sebagai respon terhadap kejadian tersebut. Bila pemberitahuan yang diterima oleh WHO menyangkut kewenangan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), WHO harus segera memberitahu IAEA.

2. Menindaklanjuti sebuah pelaporan, Negara Peserta harus terus mengkomunikasikan kepada WHO secara tepat waktu, akurat dan cukup mendetil informasi kesehatan masyarakat yang diketahuinya tentang kejadian yang dilaporkan itu, bila mungkin meliputi definisi kasus, hasil laboratorium, sumber dan jenis risiko, jumlah kasus dan kematian, kondisi yang mempengaruhi persebaran penyakit, dan tindakan penyehatan yang telah dilakukan; dan melaporkan bila perlu, kesulitan yang dihadapi dan dukungan yang diperlukan dalam merespon potensi terjadinya PHEIC.

Pasal 7 Pertukaran informasi selama terjadinya suatu kejadian luar biasa

Jika Negara Peserta mempunyai bukti mengenai kejadian kesehatan masyarakat yang tidak biasa atau yang tidak terduga di dalam wilayahnya, terlepas dari asal atau sumbernya, yang dapat menimbulkan PHEIC, maka negara peserta tersebut harus memberikan seluruh informasi kesehatan masyarakat yang relevan kepada WHO. Dalam hal demikian, ketentuan dari Pasal 6 harus diterapkan secara menyeluruh.

Pasal 8 Konsultasi

Dalam hal kejadian yang timbul di dalam wilayah suatu negara peserta yang tidak memerlukan pelaporan sebagaimana diatur dalam Pasal 6, khususnya kejadian yang tidak tersedia cukup informasi untuk mengikuti sampai selesai bagan keputusan, Negara Peserta dapat tetap memberitahu WHO melalui IHR Focal-Point Nasional dan berkonsultasi dengan WHO mengenai tindakan penyehatan yang tepat. Komunikasi demikian harus diperlakukan menurut ayat 2 s.d. 4 dari Pasal 11. Negara Peserta yang wilayahnya mengalami kejadian tersebut, dapat meminta bantuan WHO untuk melakukan penilaian terhadap setiap bukti epidemiologis yang didapatkan oleh Negara Peserta yang bersangkutan.

Pasal 9 Laporan Lain

1. WHO dapat mempertimbangkan laporan dari berbagai sumber selain pelaporan atau konsultasi dari Negara peserta, dan harus menilai laporan itu sesuai dengan prinsip epidemiologis yang berlaku dan selanjutnya mengkomunikasikan informasi tentang kejadian tersebut kepada Negara Peserta tempat peristiwa tersebut diberitakan terjadi. Sebelum mengambil tindakan berdasarkan laporan seperti itu, WHO harus berkonsultasi dan berusaha memperoleh verifikasi dari Negara Peserta yang wilayahnya diduga peristiwa itu terjadi, sesuai dengan prosedur yang terdapat dalam Pasal 10. untuk tujuan itu, WHO harus memberikan informasi yang telah diterimanya kepada Negara Peserta, dan hanya bila terdapat alasan yang kuat WHO dapat menjaga kerahasiaan sumbernya. Informasi ini akan digunakan menurut prosedur yang ditetapkan dalam Pasal 11.

2. sejauh bisa dilaksanakan, Negara Peserta harus memberitahu WHO dalam 24 jam setelah menerima bukti adanya risiko kesehatan masyarakat yang teridentifikasi di luar wilayahnya dan dapat menyebabkan penyebaran penyakit secara internasional, dan terwujud sebagai keluar dan masuknya kasus:
(a) manusia penderita;
(b) vektor yang membawa infeksi/ kontaminasi atau;
(c) barang yang terkontaminasi

Pasal 10 Verifikasi

1. Menurut Pasal 9, WHO harus meminta verifikasi dari Negara Peserta, atas laporan dari berbagai sumber selain pelaporan atau konsultasi mengenai kejadian yang dapat menjadi PHEIC, yang diduga berada di wilayah negara peserta itu. Dalam hal itu, WHO harus memberitahu Negara Peserta yang bersangkutan mengenai laporan yang ingin diverifikasikannya.

2. Sesuai dengan ayat di atas dan Pasal 9, setiap Negara Peserta, bila diminta oleh WHO, harus memverifikasi dan memberikan:
(a)dalam waktu 24 jam, penjelasan awal atau pemberitahuan diterimanya permintaan WHO;
(b)dalam waktu 24 jam, informasi kesehatan masyarakat yang tersedia mengenai status dari kejadian sebagaimana yang diacu dalam permintaan WHO; dan
(c)informasi kepada WHO dalam konteks penilaian berdasarkan Pasal 6, termasuk informasi yang relevan, sebagaimana dimaksud dalam Pasal itu.

3. Ketika WHO menerima informasi mengenai kejadian yang dapat menjadi PHEIC, WHO harus menawarkan kerja sama dengan Negara Peserta yang bersangkutan dalam menilai potensi penyebaran penyakit secara internasional, kemungkinan adanya gangguan pada lalu lintas internasional, dan ketepatan tindakan pengendalian. Kegiatan semacam itu dapat melibatkan kerja sama dengan organisasi penentu-standar lainnya dan tawaran untuk memobilisasi bantuan internasional untuk mendukung pemerintah negara peserta dalam melakukan dan mengoordinasikan penilaian di tempat. Bila diminta oleh Negara Peserta yang bersangkutan, WHO harus memberikan dukungan informasi yang mendukung tawaran itu.

4. Bila Negara Peserta tidak mau menerima tawaran kerja sama, WHO dengan mempertimbangkan besarnya risiko kesehatan masyarakat, dapat saling bertukar informasi yang tersedia dengan Negara Peserta lain, seraya menyarankan Negara Peserta tersebut untuk menerima tawaran kerja sama dengan WHO, dengan mempertimbangkan pandangan Negara Peserta tersebut.

Pasal 11 Penyediaan Informasi oleh WHO

1. Menurut ayat 2 Pasal ini, WHO harus mengirimkan kepada semua Negara Peserta dan bila perlu kepada organisasi antarpemerintah yang terkait, secepat mungkin dan dengan cara paling efisien yang tersedia secara rahasia, informasi kesehatan masyarakat yang telah diterima berdasarkan Pasal 5 s.d. Pasal 10, yang memungkinkan Negara Peserta yang ada merespon risiko kesehatan masyarakat. WHO harus memberikan kepada Negara Peserta lainnya, informasi yang dapat membantu mereka mencegah terjadinya peristiwa yang serupa.

2. WHO harus menggunakan informasi yang diterima berdasarkan Pasal 6 dan Pasal 8 dan ayat 2 dari Pasal 9 untuk tujuan verifikasi, penilaian dan pemberian bantuan berdasarkan Peraturan ini dan, kecuali jika disetujui oleh Negara Peserta yang dimaksud dalam ketentuan tersebut, tidak akan memberikan informasi itu kepada Negara Peserta lain, sampai :
(a) kejadian dipastikan merupakan PHEIC, menurut Pasal 12; atau

(b) Informasi terjadinya penyebaran penyakit menular atau kontaminasi secara internasional telah dikonfirmasikan oleh WHO berdasarkan prinsip epidemiologis yang telah diakui atau
(c) adanya bukti bahwa:
(i) tindakan pengendalian terhadap penyebaran penyakit menular secara internasional cenderung tidak berhasil oleh karena sifat dari kontaminasi, bibit penyakit, vektor, atau reservoir; atau
(ii) Negara Peserta kurang memiliki cukup kemampuan operasional untuk melaksana-kan tindakan yang dibutuhkan untuk mencegah penyebaran penyakit lebih lanjut; atau
(d) sifat dan lingkup pergerakan internasional para pelaku perjalanan, bagasi, kargo, peti kemas, alat-angkut, barang atau paket pos yang dapat terjangkit oleh penyakit menular atau kontaminasi, memerlukan penerapan segera dari tindakan pengendalian secara internasional;

3. WHO harus berkonsultasi dengan Negara Peserta yang wilayahnya mengalami kejadian itu mengenai maksud penyebarluasan informasi menurut Pasal ini.

4. Ketika informasi yang diterima oleh WHO berdasarkan ayat 2 Pasal ini disebarluaskan kepada Negara Peserta sesuai dengan Peraturan ini, WHO juga dapat menyebarluaskan kepada masyarakat, jika informasi lain tentang kejadian yang sama sudah diketahui masyarakat dan ada kebutuhan untuk penyebarluasan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan dan independen.

Pasal 12 Penetapan PHEIC

1. Direktur Jenderal WHO harus menetapkan berdasarkan informasi yang diterima, khususnya dari Negara Peserta yang di dalam wilayahnya kejadian itu berlangsung, bahwa kejadian itu merupakan suatu PHEIC menurut kriteria dan prosedur yang ditetapkan dalam Peraturan ini.

2. Bila Direktur Jenderal WHO mempertimbangkan, berdasarkan suatu penilaian menurut Peraturan ini, bahwa suatu PHEIC sedang berlangsung, Direktur Jenderal harus berkonsultasi dengan Negara Peserta yang di dalam wilayahnya kejadian tersebut muncul, tentang penetapan awal itu. Bila Direktur Jenderal dan Negara Peserta sepakat mengenai penetapan itu, maka berdasarkan prosedur yang ditetapkan dalam Pasal 49, Direktur Jenderal harus meminta pendapat dari Komite yang dibentuk menurut Pasal 48 (selanjutnya disebut “Komite Kedaruratan”) mengenai rekomendasi sementara yang tepat.

3. Jika, setelah konsultasi sesuai ayat 2 di atas, Direktur Jenderal WHO dan Negara Peserta yang di dalam wilayahnya kejadian itu berlangsung, tidak mencapai konsensus dalam waktu 48 jam mengenai apakah kejadian tersebut merupakan PHEIC, maka harus diambil keputusan berdasarkan prosedur yang ditetapkan dalam Pasal 49.

4. Dalam menetapkan bahwa suatu kejadian merupakan PHEIC, Direktur Jenderal WHO harus mempertimbangkan:

(a) informasi yang diberikan oleh Negara Peserta;
(b) bagan keputusan sebagaimana tercantum dalam Lampiran 2
(c) saran dari Komite Kedaruratan;
(d) prinsip ilmiah dan bukti ilmiah yang ada, serta informasi relevan lainnya; dan
(e) penilaian risiko terhadap kesehatan manusia, risiko penyebaran penyakit secara internasional, dan risiko gangguan terhadap lalu lintas internasional.

5. Bila Direktur Jenderal, setelah berkonsultasi dengan Negara Peserta yang di dalam wilayahnya telah terjadi PHEIC, mempertimbangkan bahwa PHEIC telah berakhir, Direktur Jenderal harus mengambil keputusan menurut prosedur yang ditetapkan dalam Pasal 49.

Tujuan, Ruang Lingkup, Prinsip, dan Badan yang Berwenang dalam IHR 2005

Tujuan, Ruang Lingkup, Prinsip, dan Badan yang Berwenang dalam IHR 2005

Tujuan dan Ruang Lingkup

Tujuan dan ruang lingkup dari Peraturan ini adalah untuk mencegah, melindungi, mengendalikan dan menyediakan respon kesehatan masyarakat terhadap penyebaran penyakit secara internasional dengan cara yang sesuai dan terbatas pada risiko kesehatan masyarakat, dan dengan menghindari gangguan yang tidak perlu terhadap lalu-lintas dan perdagangan internasional;

Prinsip

1. Pelaksanaan Peraturan ini harus menghormati sepenuhnya martabat, hak asasi, dan kebebasan hakiki manusia.
2. Pelaksanaan Peraturan ini harus berpedoman pada Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Konstitusi WHO.
3. Pelaksanaan Peraturan ini harus berpedoman pada tujuan dari penerapannya secara universal untuk melindungi seluruh umat manusia di dunia dari penyebaran penyakit secara internasional.
4. Negara, menurut Piagam PBB dan prinsip hukum internasional, memiliki kedaulatan untuk membuat dan melaksanakan undang-undang sesuai dengan kebijakan kesehatan masing-masing. Dalam penerapannya mereka harus berpegang teguh pada tujuan dari Peraturan ini.

Badan yang berwenang

1. Setiap Negara Peserta harus menunjuk atau menetapkan IHR Focal-Point Nasional dan badan-badan yang bertanggung jawab di dalam wilayah masing-masing untuk melaksanakan tindakan penyehatan berdasarkan Peraturan ini.
2. IHR Focal-Point Nasional harus dapat dihubungi setiap waktu untuk berkomunikasi dengan IHR Contact-Point WHO sesuai dengan ayat 3 Pasal ini. Fungsi IHR Focal-Point Nasional meliputi:
(a) menyampaikan kepada IHR Contact Point WHO, atas nama Negara peserta yang bersangkutan, komunikasi yang mendesak berkenaan dengan pelaksanaan Peraturan ini, khususnya yang berdasarkan pada Pasal 6 sampai dengan pasal 12; dan
(b) menyebarluaskan informasi kepada, dan mengumpulkan masukan dari, sektor pemerintahan yang relevan dari Negara Peserta yang bersangkutan, termasuk mereka yang bertanggung jawab atas surveilans penyakit dan pelaporan, pintu masuk, pelayanan kesehatan masyarakat, klinik dan rumah sakit, dan sektor-sektor pemerintahan.
3. WHO harus menetapkan IHR Contact-Point yang harus dapat di hubungi setiap waktu untuk berkomunikasi dengan IHR Focal-Point Nasional. IHR Contact-Point WHO harus menyampaikan komunikasi yang mendesak berkenaan dengan pelaksanaan Peraturan ini, khususnya menurut Pasal 6 sampai dengan Pasal 12, kepada IHR Focal-Point Nasional Negara Peserta yang terkait. IHR Contact-Point WHO dapat ditetapkan di kantor pusat atau di tingkat regional WHO.
4. Negara Peserta harus memberitahu WHO alamat lengkap IHR Focal-Point Nasional, dan WHO harus memberitahu Negara Peserta alamat lengkap IHR Contact Point WHO. Alamat lengkap itu harus terus diperbaharui dan setiap tahun dikonfirmasikan. WHO harus memberitahukan alamat lengkap IHR Focal-Point Nasional lainnya, yang diterimanya sesuai dengan Pasal ini, kepada seluruh Negara Peserta.

Ketentuan Umum International Health Regulations (IHR) 2005

INTERNATIONAL HEALTH REGULATIONS (2005)
PERATURAN KESEHATAN INTERNASIONAL (2005)/

Ketentuan Umum

Dalam Peraturan Kesehatan International, yang dimaksud dengan:

Terjangkit adalah orang, bagasi, kargo, petikemas, alat angkut, barang, paket pos, jenazah dan atau bagian tubuh manusia yang membawa sumber infeksi atau kontaminasi, sehingga merupakan risiko bagi kesehatan masyarakat;

Daerah terjangkit adalah lokasi tertentu yang telah direkomendasikan oleh WHO untuk dilaksanakan berbagai tindakan sesuai dengan Peraturan ini;

Pesawat terbang adalah pesawat terbang yang melakukan penerbangan internasional;

Bandar udara adalah setiap bandara tempat kedatangan dan keberangkatan penerbangan internasional ;

Kedatangan alat angkut adalah:
a. untuk kapal laut, adalah saat merapat atau membuang sauh di lokasi yg telah ditentukan di pelabuhan;
b. untuk pesawat terbang, saat mendarat di suatu bandar udara;
c. untuk kapal sungai dan danau, yang melakukan perjalanan internasional, saat tiba di pintu masuk;
d. untuk kereta api atau kendaraan darat lainnya, saat tiba di pintu masuk

Bagasi adalah barang bawaan seorang penumpang;

Kargo adalah barang muatan yang dibawa oleh suatu alat angkut atau di dalam petikemas;

Pejabat yang berwenang adalah pejabat yang bertanggung jawab dalam penerapan berbagai tindakan yang diatur oleh Peraturan ini

Peti kemas adalah wadah yang digunakan untuk membawa barang yang:
a. bentuknya tetap , cukup kuat dan cocok untuk penggunaan berulang-ulang;
b. dirancang khusus untuk kemudahan membawa barang dengan berbagai alat angkut tanpa perlu membongkarnya kembali;
c. dilengkapi dengan alat guna memu-dahkan pemindahan ke moda transportasi lain
d. dirancang khusus untuk memudahkan pengisian dan pengeluaran barang;

Terminal petikemas adalah tempat khusus untuk bongkar muat peti kemas yang digunakan pada rute internasional;

Kontaminasi adalah ditemukannya bibit penyakit menular atau bahan beracun pada permukaan tubuh manusia atau hewan atau pada suatu produk yang akan dikonsumsi atau pada benda mati lainnya, termasuk alat angkut, yang dapat menimbulkan risiko kesehatan masyarakat;

Alat angkut adalah pesawat terbang, kapal laut, kereta api, kendaraan darat atau alat angkut lainnya yang digunakan dalam melakukan perjalanan internasional;

Pengelola alat angkut adalah petugas atau seseorang yang berwenang untuk mengelola alat angkut atau agen perusahaan alat angkut;

Awak alat angkut adalah orang yang berada dalam alat angkut yang bukan penumpang;

Dekontaminasi adalah prosedur untuk melakukan tindakan kesehatan guna menghilangkan bibit penyakit menular atau bahan beracun pada permukaan tubuh manusia atau hewan atau pada suatu produk yang akan dikonsumsi atau pada benda mati lainnya, termasuk alat angkut, yang dapat menimbulkan risiko kesehatan masyarakat;
Keberangkatan adalah keadaan meninggalkan suatu wilayah bagi orang, bagasi, kargo, alat angkut atau barang;

Hapus tikus adalah prosedur untuk memberantas atau membunuh binatang pengerat/tikus yang terdapat di dalam bagasi, kargo, petikemas, alat angkut, ruangan, barang dan paket pos di pintu masuk;

Direktur Jenderal adalah Direktur Jenderal WHO;

Penyakit adalah suatu kondisi medis, terlepas dari asal atau sumbernya, yang dapat membahayakan manusia;

Hapus hama adalah prosedur dari tindakan penyehatan untuk menghilangkan bibit penyakit menular pada permukaan tubuh manusia atau hewan dan pada permukaan atau di dalamnya atau pada bagasi, kargo, petikemas, alat angkut, barang dan paket pos, dengan menggunakan bahan kimia atau bahan fisika;

Hapus Serangga adalah prosedur dari tindakan penyehatan yang dilakukan untuk mengendalikan dan membunuh serangga penular penyakit pada manusia yang ada di bagasi, kargo, peti kemas, alat angkut, barang, dan paket pos;

Kejadian adalah manifestasi penyakit atau suatu peristiwa yang berpotensi menimbulkan penyakit;

Izin masuk adalah izin bagi kapal untuk memasuki suatu pelabuhan, menaikkan atau menurunkan penumpang, membongkar atau memuat kargo atau menyimpannya; izin bagi pesawat terbang untuk mendarat, menaikkan atau menurunkan penumpang, membongkar atau memuat kargo atau menyimpannya; dan izin bagi kendaraan darat, pada waktu kedatangan untuk menaikkan atau menurunkan penumpang, membongkar atau memuat kargo atau menyimpannya;

Barang adalah produk nyata, termasuk hewan dan tumbuhan, yang dibawa pada perjalanan internasional, termasuk yang akan digunakan dalam alat angkut;

Pos Lintas Batas Darat adalah pintu masuk melalui darat dari negara peserta Peraturan, termasuk yang digunakan oleh kendaraan darat dan kereta api ;

Kendaraan Darat adalah alat angkut bermotor untuk transportasi darat dalam perjalanan internasional, termasuk kereta api, bus, truk, dan mobil ;

Tindakan Penyehatan adalah prosedur yang dilakukan untuk mencegah persebaran penyakit atau kontaminasi; prosedur ini tidak mencakupi penegakan hukum dan penjagaan keamanan ;

Orang sakit adalah seseorang yang menderita sakit fisik yang dapat membawa risiko kesehatan masyarakat;

Infeksi adalah masuknya dan berkembang atau berlipatgandanya suatu bibit penyakit di dalam tubuh manusia atau hewan yang dapat menjadi risiko kesehatan masyarakat;

Inspeksi adalah pemeriksaan oleh pejabat yang berwenang atau yang berada di bawah pengawasannya, terhadap area, bagasi, peti kemas, alat angkut, fasilitas, barang, atau paket pos, termasuk data dan dokumentasi yang terkait untuk menentukan apakah ada risiko kesehatan masyarakat;

Lalu Lintas Internasional adalah pergerakan orang, bagasi, kargo, petikemas, alat angkut, barang, atau paket pos yang melintasi perbatasan internasional, termasuk perdagangan internasional;

Perjalanan internasional adalah :
a.Untuk alat angkut, perjalanan di antara pintu masuk di dalam wilayah lebih dari satu negara atau beberapa wilayah dari satu negara yang sama, jika alat angkut tersebut telah berkontak dengan wilayah negara lain dalam perjalanannya tetapi hanya sejauh menyangkut kontak itu.
b.Untuk pelaku perjalanan, suatu perjalanan yang berkaitan dengan masuknya pelaku perjalanan ke dalam wilayah suatu Negara yang berbeda dari wilayah Negara tempat pelaku perjalanan tersebut memulai perjalanannya.

Intrusif adalah kemungkinan munculnya ketidaknyamanan melalui kontak dekat atau erat atau cecaran pertanyaan.

invasif adalah tindakan menusuk atau menyayat pada kulit atau memasukkan alat atau benda asing ke dalam tubuh, atau memeriksa rongga tubuh. Dalam peraturan ini, pemeriksaan telinga, hidung dan mulut, pengukuran suhu tubuh menggunakan termometer telinga/mulut/kulit atau pemindai panas; inspeksi; auskultasi; palpasi luar; retinoskopi; pengumpulan air seni, feses atau sampel air liur; pengukuran tekanan darah; dan elektrokardiografi, harus dianggap sebagai tindakan non-invasif;

Isolasi adalah pemisahan orang yang sakit atau terkontaminasi, atau bagasi, peti kemas, alat angkut, barang, atau paket pos yang terjangkit kuman penyakit dari orang/barang lainnya sedemikian rupa untuk mencegah persebaran infeksi atau kontaminasi;

Pemeriksaan Medik adalah penilaian awal terhadap seseorang oleh petugas kesehatan yang berwenang atau oleh orang yang berada di bawah pengawasan langsung pejabat yang berwenang, untuk menentukan status kesehatan orang tersebut dan potensi risiko kesehatan masyarakat bagi orang lain, dan dapat mencakupi pemeriksaan terhadap dokumen kesehatan dan pemeriksaan fisik bila dianggap perlu berdasarkan atas keadaan orang tersebut.

‘IHR Focal-Point’ Nasional adalah institusi / individu yang ditunjuk oleh setiap negara peserta, yang setiap waktu dapat dihubungi untuk berkomunikasi dengan ‘IHR Contact Point’ WHO, berdasarkan Peraturan ini

Organisasi atau WHO adalah Organisasi Kesehatan Dunia;

Tempat tinggal tetap mempunyai pengertian sesuai dengan ketentuan hukum Negara peserta yang bersangkutan;

Data pribadi adalah setiap informasi mengenai data yang berhubungan dengan identitas atau yang dapat dikenali sebagaimana lazimnya terhadap seseorang(?)

Pintu masuk adalah tempat perlintasan untuk keluar-masuk secara internasional bagi pelaku perjalanan, bagasi, kargo, petikemas, alat angkut, barang dan paket pos, dan juga agen dan area yang menyediakan pelayanan bagi mereka untuk keluar-masuk.

Pelabuhan adalah pelabuhan laut atau pelabuhan yang terletak pada sungai dan danau, tempat kapal yang melakukan perjalanan internasional datang dan berangkat.

Paket pos adalah paket yang beralamat yang dikirim secara internasional melalui layanan pos atau layanan pengiriman lainnya;

Kedaruratan kesehatan masyarakat yang meresahkan dunia, (PHEIC) adalah kejadian luar biasa dengan ciri ciri sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan ini:
(i) merupakan risiko kesehatan masyarakat di negara lain melalui persebaran penyakit secara internasional dan
(ii) berpotensi memerlukan respons internasional secara terkoordinasi;

Pengamatan kesehatan masyarakat ada lah pemantauan status kesehatan pelaku perjalanan selama beberapa waktu dengan tujuan menetapkan adanya risiko penularan penyakit;

Risiko Kesehatan Masyarakat adalah kemungkinan besar terjadinya suatu peristiwa yang dapat berpengaruh buruk terhadap kesehatan masyarakat, dengan penekanan pada faktor risiko yang dapat menyebar secara internasional atau dapat menimbulkan bahaya serius dan langsung;

Karantina adalah pembatasan kegiatan dan/atau pemisahan seseorang tersangka yang tidak sakit atau barang, peti kemas, alat angkut, atau barang yang tersangka dari orang/ barang lain, sedemikian rupa untuk mencegah kemungkinan persebaran penyakit atau kontaminasi;

Rekomendasi dan direkomendasikan adalah rekomendasi sementara atau rekomendasi tetap yang diterbitkan berdasar kan Peraturan ini;

Sumber penularan adalah hewan, tumbuh an, atau benda tempat bibit penyakit biasanya hidup, dan keberadaannya dapat merupakan risiko kesehatan masyarakat;

Kendaraan darat adalah kendaraan angkutan darat selain kereta api;

Bukti ilmiah adalah informasi yang memberikan tingkat pembuktian berdasarkan metoda ilmiah yang telah mapan dan diterima.

Prinsip ilmiah adalah hukum dasar dan fakta alamiah yang telah diketahui melalui metode ilmiah.

Kapal adalah kapal laut atau kapal sungai / danau dalam suatu perjalanan internasional;

Rekomendasi tetap adalah saran tidak mengikat yang dikeluarkan oleh WHO dalam menghadapi risiko kesehatan masyarakat, sesuai dengan Pasal 16, menyangkut tindakan penyehatan yang tepat untuk diterapkan secara rutin atau periodik, yang diperlukan untuk mencegah atau mengurangi persebaran penyakit secara internasional dengan meminimalkan gangguan pada lalu-lintas internasional;

Surveilans adalah pengumpulan, pengolahan dan analisis data secara sistematis untuk tujuan kesehatan masyarakat serta penyebaran informasi kesehatan masyarakat secara tepat waktu untuk penilaian dan respons kesehatan masyarakat sesuai dengan keperluan;

Terduga adalah orang, bagasi, kargo, petikemas, alat angkut, barang, atau paket pos yang dianggap telah terpajan atau mungkin terpajan suatu faktor risiko kesehatan masyarakat yang mungkin menjadi sumber persebaran penyakit;

Rekomendasi sementara adalah anjuran tidak mengikat yang dikeluarkan oleh WHO sesuai dengan Pasal 15, untuk diterapkan dalam waktu terbatas, sesuai dengan faktor risiko yang spesifik, sebagai respons terhadap PHEIC, untuk mencegah atau mengurangi persebaran penyakit secara internasional, dengan meminimalkan gangguan terhadap lalu-lintas internasional;

Tempat tinggal sementara Mempunyai makna sebagaimana Undang-undang Negara Peserta yang bersangkutan.

Pelaku perjalanan adalah sebagaimana lazimnya seseorang yang melakukan perjalanan internasional;

Vektor adalah serangga atau hewan lain yang biasanya membawa bibit penyakit yang merupakan suatu risiko kesehatan masyarakat;

Verifikasi adalah pemberian informasi oleh Negara peserta kepada WHO yang mengkofirmasikan status suatu kejadian di dalam satu atau beberapa wilayah negara peserta tersebut;

‘IHR Contact Point’ WHO adalah unit di dalam WHO yang dapat dihubungi setiap waktu untuk berkomunikasi dengan IHR Focal-Point Nasional.
2. Kecuali ditentukan lain atau ditentukan berdasarkan konteksnya, acuan pada peraturan ini mencakupi lampirannya.