Wednesday, March 27, 2013

Diagnosa Cepat DBD

Salah satu gejala demam berdarah dengue (DBD) yang masih banyak diyakini masyarakat adalah munculnya bintik-bintik merah di kulit. Tapi terkadang bintik merah ini tidak muncul di permukaan kulit. "Sebenarnya ada cara yang sederhana yaitu dengan diprovokasi gitu," ujar dr Darmawali Handoko, MEpid, Kepala seksi standarisasi sub- direktorat arbovirosis, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang (P2B2) Kemenkes dalam acara Pengumuman Jumantik dan Kelurahan Teladan Kampanye 'Tepat Tangani Demam' di Restoran Tesate, Jakarta, Kamis (22/11/2012). dr Koko menjelaskan cara provokasi ini adalah dengan melakukan pembendungan antara tensi (tekanan darah) diastolik dan sistolik, kemudian dibiarkan selama 5-10 menit lalu lihat apakah timbul bintik merah atau tidak. "Jadi tidak perlu menunggu sampai bintik merah ini timbul di permukaan, biasanya dilakukan oleh petugas kesehatan, itu salah satu cara untuk melihat tanda-tanda awal demam berdarah," ungkapnya. dr Koko menuturkan jumlah kasus demam berdarah pada tahun 2011 mencapai 65.000-an kasus per tahun. Namun jumlah kasus biasanya tidak sama setiap bulannya, karena tergantung dari banyaknya genangan air. "Sudah musim hujan, kewaspadaan harus lebih besar lagi, tidak hanya dirumah, tapi juga di hotel atau tempat makan. Dan para jumantik ini bisa menjadi pengawas," tutur dr Koko. Berdasarkan data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Kemenkes, seseorang dicurigai demam berdarah jika ia mengalami gejala-gejala berikut ini yaitu: 1. Demam mendadak ditambah 2 gejala di bawah ini 2. Sakit kepala 3. Nyeri di belakang mata 4. Nyeri otot 5. Nyeri tulang 6. Ruam (bercak merah) di kulit 7. Muncul tanda peedarahan 8. Leukosit atau sel darah putihnya rendah 9. Uji serologi dengue positif 10. Ada tetangga yang diketahui positif demam berdarah dengue Fase dari demam berdarah ini ada masa inkubasinya yaitu sekitar 5-9 hari mulai dari infeksi sampai dengan timbul gejala. Lalu dilanjutkan dengan fase akut yang mana sudah muncul gejala sekitar 1-3 hari dan pada hari ke 4-6 merupakan fase kritis. Pada kondisi itulah bisa terjadi kebocoran pembuluh darah kapiler. Selain melalui tes bendung ini, diagnosis DBD bisa dilakukan melalui tes IgG/IgM dan juga tes NSI. Kedua tes ini akurat, tapi harus melihat waktu pemeriksaannya. Jika demam baru terjadi 2 hari maka dilakukan tes SNI, tapi jika demam hari kelima maka dilakukan tes IgG/IgM.

sumber : detikhealth

Perkembangan Penyakit Demam Berdarah Dengue

Baru-baru ini World Health Organization menyatakan bahwa demam berdarah (dengue) merupakan penyakit tropis yang paling cepat menyebar dan dikatakan sebagai 'ancaman pandemi' baru. Padahal pada tahun 1950-an penyakit yang ditularkan lewat gigitan nyamuk betina ini hanya dapat ditemukan di segelintir wilayah. Kondisinya kini berbeda karena demam berdarah telah menyebar hingga ke 125 negara. Hal ini jauh lebih banyak daripada kasus malaria yang selama ini disebut sebagai penyakit paling terkenal yang 'dibawa' oleh nyamuk sepanjang sejarah. "Pada tahun 2012, demam berdarah tercatat sebagai penyakit akibat virus yang penyebarannya paling cepat dan berpotensi epidemi di seluruh dunia, bahkan dilaporkan mengalami peningkatan kasus hingga 30 kali lipat dari kondisi 50 tahun yang lalu," papar WHO dalam sebuah pernyataan seperti dikutip dari foxnews, Kamis (17/1/2013). "Di seluruh dunia, 2 juta kasus demam berdarah dilaporkan terjadi setiap tahunnya di 100 negara, terutama di benua Asia, Afrika dan Amerika Latin serta menyebabkan 5.000-6.000 kasus kematian. Tapi angka sebenarnya bisa jadi lebih tinggi karena penyakit ini telah menyebar secara eksponensial dan ditemukan di semua benua," ungkap Dr. Raman Velayudhan, seorang pakar di departemen pengendalian penyakit tropis di bawah WHO. WHO pun telah memperkirakan bahwa rata-rata terjadi 50 juta kasus demam berdarah setiap tahunnya. "Padahal ini hanyalah perkiraan yang sangat konservatif. Namun kami memastikan bahwa demam berdarah adalah penyakit yang paling berbahaya dan paling cepat penularannya sekarang ini, belum lagi sifatnya yang rentan menjadi epidemi meski sebenarnya ini baru ancaman," tandasnya. Berbicara dalam briefing pasca peluncuran laporan terbaru WHO tentang 17 penyakit tropis yang diabaikan (neglected tropical diseases) di seluruh penjuru dunia, Velayudhan mengatakan, "Nyamuknya diam-diam telah mengembangkan distribusinya hingga ke lebih dari 150 negara. Itulah mengapa ancaman demam berdarah muncul di seluruh dunia." Di Eropa, nyamuk aedes ini telah menyebabkan demam berdarah sekaligus penyakit chikungunya di 18 negara. Kebanyakan diperoleh dari impor kerajinan bambu atau ban bekas dari negara berkembang. Ini adalah wabah demam berdarah pertamanya sejak tahun 1920-an dengan jumlah penderita mencapai 2.000 orang, khususnya di sebuah pulau di Portugis bernama Madeira. "Namun kami berupaya menangani kondisi ini dengan cara yang lebih sistematis seperti mengontrol masuknya vektor dari berbagai titik masuk -pelabuhan, bandara hingga ke perlintasan darat, meski sebenarnya sulit untuk mendeteksi keberadaan nyamuk tersebut berikut telur-telurnya," katanya. Sayangnya, hingga kini belum ditemukan pengobatan yang spesifik untuk mengatasi penyakit ini tapi deteksi dini dan akses terhadap layanan kesehatan yang memadai dapat menurunkan tingkat kematian hingga di bawah 1 persen. "Anda harus tahu penyakit ini tak ada obatnya dan vaksin-vaksinnya pun masih dalam tahap penelitian," timpalnya. Yang terbaru tengah dikembangkan oleh produsen obat asal Prancis, Sanofi SA. Hanya saja efektivitas vaksin ini diketahui baru mencapai 30 persen setelah dilakukan percobaan klinis berskala besar di Thailand. Kendati begitu, tim peneliti mengatakan bahwa untuk pertama kalinya hasil percobaan ini menunjukkan adanya vaksin yang aman dan berpotensi menjadi pengobatan demam berdarah.

sumber: detikhealth

Sunday, March 10, 2013

Kelelawar Penyebar Virus

Beberapa virus dari hewan bisa berpindah ke manusia dan menyebabkan penyakit. Sebelumnya, tikus dianggap sebagai hewan yang paling berbahaya karena pernah memicu wabah pes yang melenyapkan separuh populasi Eropa di abad pertengahan. Belum lagi urine tikus yang menyebabkan Leptospirosis. Namun hasil penelitian menemukan kelelawar lebih berbahaya. "Sepertinya ada sesuatu yang berbeda mengenai kelelawar dalam hal kemampuannya menjadi inang infeksi zoonosis (penyakit manusia yang ditularkan dari hewan)," kata peneliti, David Hayman, ahli epidemiologi satwa liar dari Colorado State University (CSU), seperti dilansir LiveScience.

Para peneliti membandingkan kemampuan tikus dan kelelawar dalam hal menjadi inang berbagai jenis virus. Caranya dengan menganalisa data semua virus yang diidentifikasi berasal dalam hewan. Peneliti menemukan ada 179 virus yang bisa menghuni tikus, sebanyak 68 di antaranya bisa ditularkan ke manusia. Pada kelelawar, ada 137 virus yang bisa menghuni dan 61 di antaranya bisa ditularkan ke manusia. Walau lebih sedikit, namun jika dihitung rata-rata per spesies, kelelawar lebih banyak dihuni virus. Satu kelelawar rata-rata dihuni 1,79 virus yang bisa menyerang manusia, sedangkan pada tikus hanya 1,48 virus.

Penelitian yang dimuat jurnal Proceeding of Royal Society B ini juga menemukan kelelawar lebih banyak berbagi virus ketimbang tikus. Satu virus rata-rata menginfeksi 4,51 spesies kelelawar, sementara satu virus tikus menginfeksi rata-rata 2,76 spesies tikus. Penyebabnya karena kelelawar tinggal amat berdekatan dengan jutaan kelelawar lain. Selain itu, kelelawar memiliki masa hidup lebih lama ketimbang tikus, memiliki massa tubuh yang lebih besar, ukuran kotoran yang kecil dan lebih lama membawa virus berbahaya.

Yang lebih mengkhawatirkan, ada banyak virus dalam kotoran kelelawar yang sampai saat ini belum dapat diidentifikasi. "Meskipun manusia jarang melakukan kontak langsung dengan kelelawar, virus dari hewan ini dapat menginfeksi manusia lewat kontak dengan
hewan peliharaan yang terinfeksi, misalnya kuda, sapi dan kucing.

Kebanyakan wabah rabies pada manusia jika dirunut dapat berasal dari kelelawar, begitu pula penularan virus Nipah dan Hendra.

Norovirus di Kapal Pesiar

Royal Carribean, sebuah kapal pesiar, berlayar pada tanggal 25 Februari
lalu selama 11 hari. Beberapa saat setelah kapal buang sauh, kapten mengumumkan bahwa telah ada wabah norovirus di atas kapal.


Norovirus adalah penyakit yang sangat menular dengan gejala berupa mual, pusing dan diare.

Akibat insiden ini, terhitung sebanyak 105 tamu dan 3 anggota kru kapal tertular wabah norovirus. Seluruh penumpang kapal yang terkena
penyakit ini sudah diberi obat dan penyakitnya berangsur membaik. Akibat kasus ini, kapal pesiar tersebut segera melakukan bersih-bersih secara menyeluruh begitu berlabuh di Port Everglades sebagai pemberhentian terakhir. Kapal pesiar ini seharusnya akan segera memulai lagi 11 hari pelayarannya. Namun perjalanan tersebut ditunda karena manajemen sedang melakukan pembersihan. Pelabuhan yang
disinggahi kapal ini adalah Tortola, British Virgin Islands, Philipsburg, St Maarten, Fort de France, Martinique, St John, Antigua dan Basseterre di St Kitts.

Dalam pelayaran terakhir, kapal ini mengangkut 1.991 tamu dan 772 kru. Royal Caribbean sebenarnya memiliki standar kesehatan yang tinggi, namun penyebaran norovirus memang terhitung cepat. Diperkirakan setiap tahun ada sebanyak 300 juta orang di dunia yang terserang Norovirus.