Sunday, December 27, 2015

Vaksin Dengue


Vaksin Dengue pertama di dunia telah mendapat izin edar pada tanggal 9 Desember 2015. Vaksin ini bermerek DENGVAXIA, dengan Meksiko adalah negara pertama yang menggunakannya. Vaksin Dengue ini diproduksi oleh Sanofi (Perancis) setelah dikembangkan selama lebih dari 20 tahun.  Penemuan vaksin Dengue dianggap sebagai salah satu pencapaian historis dalam sejarah vaksinologi dan diyakini akan menurunkan angka kejadian demam Dengue/demam berdarah Dengue.

Vaksin Dengue efektif untuk keempat serotipe virus Dengue (DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4) dan dapat diberikan pada orang berusia 9-45 tahun.  Sebelum mendapat izin edar, vaksin Dengue telah menjalani proses uji klinis yang melibatkan lebih dari 40.000 orang di seluruh dunia, dari berbagai kelompok umur, latar belakang epidemiologis, etnis, kondisi geografis, dan status sosioekonomi.

Dampak infeksi Dengue di negara-negara endemis cukup signifikan.  Sebanyak 400 juta orang terinfeksi Dengue setiap tahunnya. Terdapat 128 negara yang dinyatakan endemis Dengue, termasuk Indonesia. WHO sendiri menargetkan pada tahun 2020, angka kematian akibat infeksi Dengue berkurang 50% dan angka kecacatan berkurang 25%. Dari uji klinis vaksin Dengue diketahui bahwa bila vaksinasi Dengue dilakukan pada 20% populasi di 10 negara endemis  yang berpartisipasi pada uji klinis fase III, kasus baru Dengue dapat dikurangi hingga 50%.

Kasus demam Dengue dan demam berdarah Dengue adalah sesuatu  yang kita saksikan sehari-hari di Indonesia. Tak terhitung berapa banyak anak dan orang dewasa yang harus menjalani perawatan di RS karena infeksi Dengue. Banyak pula pasien yang sampai meninggal, umumnya karena orang tua tidak mengenali gejala demam Dengue/demam berdarah Dengue, sehingga anak terlambat mendapat pertolongan medis. Tidak ada pengobatan spesifik bagi demam Dengue/demam berdarah Dengue. Terapinya bersifat suportif, khususnya dalam hal pemberian cairan yang agresif.

Indonesia sendiri menjadi salah satu negara yang berpartisipasi dalam uji klinis vaksin Dengue. Saat ini, vaksin ini sedang menjalani proses registrasi di Badan POM untuk mendapatkan izin edar. Bila tak ada aral melintang, vaksin ini akan tersedia pada tahun 2016. Mengenai harga, belum ada rilis resmi dari produsen, namun diperkirakan harganya masih relatif mahal, namun menjadi sangat murah bila dibandingkan dengan jumlah biaya yang harus dikeluarkan bila kita/anak-anak kita mengalami demam berdarah.

Friday, October 30, 2015

Kewaspadaan Terhadap Penyakit Perjalanan/ Traveller

Penyakit menular dapat timbul oleh karena adanya penularan dari orang yang sakit ke orang yang sehat melalui berbagai macam cara. Salah satu cara penularannya adalah terbawanya penyakit dari suatu daerah kedaerah lainnya melalui orang yang bepergian (Traveller). Penyakit traveler atau penyakit akibat perjalanan seperti penyakit Thypoid, Penyakit Malaria, penyakit MersCov, penyakit Ebola dan lain-lain adalah penyakit yang perlu diwaspadai, ini disebabkan tingginya angka kematian yang diakibatkan oleh penyakit-penyakit tersebut.

Dua penyakit yang menjadi perhatian dunia terutama WHO adalah penyakit MersCov dan penyakit Ebola. Kemungkinan untuk penyakit ini masuk dan berkembangbiak kewilayah Negara Indonesia  sangatlah besar, kondisi ini diakibatkan oleh banyaknya penduduk yang bepergian baik nasional maupun internasional. Minat penduduk melakukan perjalanan Haji dan Umroh sangat besar, hal ini membawa dampak mudahnya penyakit-penyakit masuk dan berkembang.

Pelayanan dan administrasi calon Jemaah haji sudah sangat baik dilakukan oleh pemerintah, namun pelayanan untuk Jemaah umroh belum dikelola dengan maksimal. Antisipasi terhadap kemungkinan munculnya penyakit traveler, Dinas Kesehatan bekerja sama dengan Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP), mengkompilasi data calon jemaah Umroh yang mendapat vaksinasi meningitis di KKP. Selanjutnya data Jemaah Umroh dan rencana keberangkatannya, beserta alamat domisili diemailkan kepada teman teman pengelola Surveilans di Kabupaten Kota untuk ditindaklanjuti dalam rangka antisipasi terhadap munculnya penyakit traveller. Sumber data berasal dari kompilasi data vaksinasi meningitis dari KKP.

Monday, October 5, 2015

Rencana Kontinjensi Kedaruratan Kesehatan Masyarakat

Setiap daerah mempunyai ciri khas tersendiri yang membedakannya dengan daerah lainnya. Hal ini mengindikasikan bahwa resiko terhadap kedaruratan kesehatan masyarakat berbeda-beda pula. Kedaruratan kesehatan masyarakat tentunya memerlukan upaya khusus untuk penanggulangannya. Salah satu kendala yang sering dijumpai dalam upaya penanggulangan kedaruratan kesehatan masyarakat adalah kurangnya kesiapan sumber daya manusia dan komitmen kerjasama lintas program dan sektor terkait. Agar penyelenggaraan penanggulangan kedaruratan kesehatan masyarakat di suatu wilayah dapat berjalan lancar dan mencapai tujuan serta sasaran yang diharapkan, maka disusunlah rencana kontinjensi yang mengatur penyelenggaraan kegiatan dimaksud yang meliputi perencanaan, persiapan dan ketentuan pelaksanaan serta evaluasi. Adapun susunan rencana kontinjensi secara umum adalah sebagai berikut.